REDAKSI8.COM – Yang diduga aliras sesat yang terjadi di Dusun Danau Huling Desa Paramasan Bawah Kecamatan Paramasan Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan itu menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banjar itu hanya menyimpang, bukan sesat.
Seperti yang dijelaskan oleh Ketua MUI Kabupaten Banjar KH Muhammad Husein, bahwa untuk membahas tentang aliran yang dianggap sesat itu sudah dilakukan rapat MUI Kabupaten Banjar dengan Tim Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Keagamaan dalam Masyarakat (Pakem) yang terdiri dari TNI-Polri, Kejaksaan dan anggotanya dari MUI Kabupaten Banjar.

“Emang dari Pakem sudah turun kelapangan untuk melakukan instepegasi kepada ajaran yang dianggap sesat oleh MUI Kecamatan Paramasan, hasil dari investigasi langsung menuju objek penelitian, dari pihak pengajar atau gurunya sampai kepada orang yang mengikuti ajaran tersebut,” ungkapnya, Rabu (7/7/2021).
Ia kembali mengatakan bahwa sudah ada 20 orang mengikuti tersebut, setelah kita lakukan diskusi dari hasil investigasi tersebut, bahwa ajaran tersebut tidak sesat, tetapi hanya sedikit menyimpang dan hanya perlu diluruskan kembali bagaimana yang semestinya.
KH Muhammad Husein juga menjelaskan bahwa terkait dengan Shalat Maghrib dengan sholat Isya bisa digabung dengan cara setelah sholat Magrib dan sajadah dibalik langsung bisa melaksanakan sholat Isya, setelah mereka selidiki ternyata setelah sholat magrib mereka balik sajadah dan santai, apabila sampai sholat isya maka sajadah kami balik kembali.
“Ternyata laporan itu berlawanan antara laporan dan hasil dari penyelidikan tari tim Pakem Kabupaten Banjar. cuman salah satu item yang dapat kita pastikan bahwa ini bukan aliran sesat, hanya penyimpangan saja masalah ajaran,” tuturnya
MUI Kabupaten Banjar sendiri memaklumi kondisi di Kecamatan Paramasan, bahwa mereka disana hanya kurang bimbingan, karena tuan gurunya sedikit, dan MUI Kabupaten Banjar memberikan pendapat bahwa itu hanya penyimpangan ajaran, bukan sesat.
Tentang mereka tidak ke masjid, itu karena mereka hanya tidak melakukan sholat di masjid saja. Dan guru yang mengajarkan tersebut mengatakan bahwa ajaran yang disampaikan seperti ajaran Islam juga dengan melakukan wudhu dan melakukan sholat lima waktu sehari semalam dan tidak ada tambahan ajaran yang lain.
Cuman, dalam hal tentang wudhu, mereka menambahkan ilmu ilmu tentang ketuhanan, itu yang sangat disayangkan. sedangkan kita belajar ilmu fiqih dan beberapa kitab yang pernah kita pelajari bahwa apa yang mereka ajarkan tidak pernah ketemu di dalam kitab fiqih.
Contohnya, saat mereka berwudhu, maka mereka i’tikadkan bahwa didalam tubuh ini ada beberapa huruf, mulai mencuci muka itu ada huruf Alif, Ba, Ta dan Tsa, kita belum sampai kesana lagi belajar. Maka wudhu mereka agak lama.
Begitu juga saat melakukan sholat, sholat itu ada bermacam macam, untuk sholat wajib maka harus mengitikadkan hati kita percaya dengan 25 nama nabi dan rasul, seperti sholat subuh, harus lima nabi yang harus kita i’tikadjan dan percaya, misalnya nabi adam dan kita percaya bahwa itu benar benar nabi Allah dan itu yang diingatkan saat sholat.
Tetapi ada kata kata dari mereka apabila tidak berwudhu seperti ini dan sholat tidak seperti ini maka tidak sah. Karena meletakan itikad itu tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh ahlussunnah wal jamaah.
Untuk shalat hari raya mereka mengerjakan pada malam hari, padahal disunnahkan bagi orang yang mengerjakan sholat baik itu Idul Fitri dan Idul Adha itu dilaksanakan setelah terbit fajar. Untuk sholat jumat mereka tidak ikut lagi ke masjid dan mereka melaksanakan sholat jumat dirumah.
Mereka yang ajarannya menyimpang ini adalah komunitas para pendulang, dan hasil instipegasi pengikut ajaran tersebut tidak banyak, hanya lima keluarga dengan jumlah total 20 orang. Setelah melakukan aktivitas siang hari, mereka pada malam hari santai dan membicarakan tentang masalah ketuhan



