REDAKSI8.COM – Sebelum dan sesudah melakukan aktivitas khususnya diluar rumah, dianjurkan dalam masa pandemi Covid-19 masyarakat untuk selalu mencuci tangan dengan sabun.
Kenapa dengan sabun? menurut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, H. Rusmadi ada beberapa alasan penting kenapa harus menggunakan sabun.
Ia menerangkan, tangan banyak melakukan aktivitas seperti memegang hewan peliharaan, mengetik komputer, memegang uang, membersihkan kotoran setelah buang air, memegang gagang pintu kantor atau lingkungan publik.
Tanpa sadar sambungnya, setelah itu menyiapkan hingga memberi makan si buah hati. Jika tidak dicuci dengan sabun dapat memindahkan kuman penyakit.
“Kulit tangan kita selalu lembab karena secara alami mengandung lemak. Oleh karena itu, kuman atau kotoran mudah menempel,” terangnya.
“Dengan sabun dan air yang mengalir, para kuman penyakit yang menempel ditangan mudah hilang,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan, manfaat cuci tangan pakai sabun dengan air yang mengalir diantaranya, mencegah penyakit diare, infeksi saluran pernafasan bagian atas hingga 50%. Lalu, menurunkan 50% insiden avian influensa, hepatitis A, cacingan, penyakit kulit dan penyakit pada mata.
Lebih jauh kepada Redaksi8.com, cara cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir sesuai dengan anjuran kesehatan ada 6 langkah.
Langkah pertama basahi tangan. Bagian telapak gosok dengan sabun. Usap dan terus gosok secara lembut dengan arah memutar.
Kedua, usap dan gosok bagian punggung tangan secara bergantian. Ketiga, gosok sela sela jari tangan hingga bersih. Keempat, bersihkan ujung jari secara bergantian dengan posisi saling mengunci.
Kelima, gosok dan putar ibu jari secara bergantian. Dan keenam, letakan dan gosok ujung jari ke telapak tangan serta bilas dengan air bersih dan keringkan.
Berdasarkan anjuran WHO (World Health Oraganization), mencuci tangan pakai sabun dengan air yang mengalir setidaknya 20 sampai 30 detik. Karena, jika hanya 15 detik diduga bakteri dan kuman penyakit masih menempel di bagian tangan.
Profesor kimia dari University of New South Wales, Sydney, Pall Thordarson menjelaskan dalam sebuah artikel di The Guardian (12/3), mengapa sabun justru ampuh untuk menghentikan persebaran virus, saat belum ada satupun obat yang berhasil menyembuhkan infeksinya.
Virus merupakan partikel nano dengan bagian terlemah berupa lemak yang disebut lipid bilayer. Sementara sabun melarutkan membran lemak virus sehingga bisa menghancurkan virus atau mematikannya.
Secara lebih detail, virus sebenarnya terbentuk dari tiga komponen utama, yakni ribonucleic acid (RNA), protein, dan lipid (lemak). Sel tubuh yang terinfeksi virus kemudian memproduksi ketiga komponen tersebut yang pada akhirnya akan membentuk virus yang baru.
Saat sel tubuh yang dihinggapi virus sudah mati, maka virus-virus ini akan menginfeksi sel lainnya hingga berakhir di saluran paru-paru.
Dari hasil penelitian, ketiga bahan yang membentuk virus itu tidak terikat secara kuat, sehingga tidak dibutuhkan bahan kimia keras untuk melepaskan mereka satu sama lain.
Mencuci tangan menggunakan air yang mengalir memang bisa saja dilakukan, namun air tidak cukup untuk menghilangkan virus yang menempel.
Air tidak cukup kuat untuk memisahkan virus yang lengket dengan permukaan kulit. Lain halnya dengan air sabun. Sabun mengandung sejenis lemak yang disebut sebagai amphiphiles.
Amphiphiles ini secara struktur sangat mirip dengan lemak yang ada di membran virus. Sehingga molekul-molekul sabun dapat ‘bertarung’ dengan lemak yang ada di membran virus.
Inilah cara yang kurang lebih sama, ketika sabun bekerja menghapus kotoran dari kulit. Sabun tidak hanya melepaskan virus yang melekat dengan kulit, namun juga memisahkan ketiga komponen pembentuk virus, yakni protein, RNA, dan lemak yang menyatu.



