REDAKSI8.COM – Pemerintah Kota Banjarbaru mencoba menghidupkan dan melestarikan kembali salah satu budaya Banjar yang mulai ‘pudar’ terkikis perkembangan zaman, Badamaran.
Jum’at malam (24/5), budaya Banjar ini diadakan di Pondok Pesantren Al Fatih Wal Imdad Batu Ampar, Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru, dengan tajuk Festival Badamaran.
Walikota Banjarbaru H Nadjmi Adhani mengatakan, dihidupkannya kembali salah satu budaya masyarakat Banjar ini merupakan ide dari Ketua DPRD Kota Banjarbaru, H AR Iwansyah.
“Oleh karena itu pemerintah kota mencoba untuk memediasi dan mengangkat kembali ‘batang tarandam’, kita malam ini mencoba menggali budaya Banjar yang dulu setiap tahun dilaksanakan menjelang malam ‘salikuran’, yaitu Badamaran,” ujar Nadjmi Adhani.

Nadjmi Adhani menambahkan, Festival Badamaran ini diharapkan dapat diangkat kembali sebagai salah satu budaya yang masih dipertahankan di Banjarbaru, serta dapat dijual sebagai bagian dari event wisata di Banjarbaru.
“Mudah-mudahan di tahun depan kita bisa mengembangkan lagi tidak hanya di satu-dua titik di Kecamatan Cempaka, tapi bisa mengarah ke kota dan diikuti oleh kecamatan-kecamatan yang lain (tingkat Kota Banjarbaru),” harapnya.
Eqy Morres, salah seorang warga Banjarbaru penikmat budaya tradisional Banjar, mengaku bangga dengan Pemerintah Kota Banjarbaru yang peduli dengan salah satu budaya Banjar, yaitu Badamaran.
“Badamaran itu getah damar yang dijadikan bahan bakar untuk menyalakan api. Jadi orang-orang dulu seperti ini keadaannya, bedamaran untuk penerangan karena belum ada listrik. Kita yang di zaman milenial ini bisa merasakan apa yang dirasakan orang-orang pada zaman dulu,” kata Eqy.
Ia berharap Festival Badamaran ini bisa kembali berlanjut dan dilestarikan di tahun-tahun selanjutnya, untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Banjarbaru.
Pembukaan Festival Badamaran ini juga dihadiri oleh Wakil Walikota Banjarbaru H Darmawan Jaya Setiawan, Ketua DPRD Kota Banjarbaru H AR Iwansyah, Kepala Disporabudpar Kota Banjarbaru Hidayaturahman, serta tokoh-tokoh masyarakat setempat.



