REDAKSI8.COM, BANJAR – Musim kemarau panjang yang memicu kekeringan di Kabupaten Banjar kian mencekik pasokan pangan lokal, hingga memaksa pedagang bergantung pada pasokan cabai dari luar daerah demi menjaga ketersediaan di pasar.
Gagal panen massal yang melanda tingkat petani menyebabkan stok cabai rawit lokal kian langka, hingga harganya melonjak drastis mencapai Rp120 ribu per kilogram dari harga semula di kisaran Rp80 ribu per kilogram.

Informasi ini dikabarkan langsung oleh salah satu pedagang setempat, Anang.
Katanya, kenaikan tajam yang berlangsung selama tiga pekan terakhir ini tidak hanya terjadi pada cabai rawit, tetapi juga merembet ke komoditas lain seperti terong, timun, dan jagung.
“Impor bahan pokok antar daerah yang dilakukan kami pun belum mampu meredam gejolak harga, mengingat daerah pemasok turut menghadapi persoalan produksi terbatas serta hambatan distribusi akibat kendala cuaca,” ujarnya.
Dampak domino dari terganggunya rantai pasok ini mulai menggerus daya beli masyarakat.
Mahasiswi yang saat ini tinggal di kota martapura, Maryam mengaku dengan naiknya harga sejumlah bahan kebutuhan pokok menyiasati dengan mengurangi pembelian. “Konsumen kini terdesak untuk memperketat alokasi anggaran belanja bulanan di tengah ketidakpastian kondisi cuaca yang masih membayangi sektor pertanian setempat,” ucapnya.

