REDAKSI8.COM, BANJARMASIN – Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Fisipioneer Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak bibit-bibit pemanjat tebing berbakat.
Memasuki edisi keenam, Fisipioneer Bouldering Competition (FBC) VI 2026 siap digelar pada 30 Oktober – 1 November mendatang di Dinding Panjat Boulder FISIP ULM, Banjarmasin.


Ajang bergengsi tingkat regional tersebut dirancang bukan sekadar sebagai kompetisi olahraga tahunan, melainkan sebagai wadah pembinaan jangka panjang untuk memperkuat ekosistem bouldering di Kalimantan Selatan.
Pengalaman menggelar kejuaraan hingga skala nasional menjadi modal kuat penyelenggara untuk menyajikan ajang yang matang secara teknis maupun konsep.

Ketua Umum MPA Fisipioneer, Salman Al Farizi, menekankan, keberlanjutan FBC hingga edisi ke-6 menjadi bukti nyata peran aktif organisasi mahasiswa dalam mendukung pembinaan atlet muda.
Menurutnya, bouldering memerlukan ruang kompetisi yang teruji untuk mengasah fisik sekaligus strategi pemanjat.
“Tahun ini, kita kembali menapaki tonggak sejarah penting. FISIPIONEER Bouldering Competition (FBC) kini telah menginjak edisi ke-6,” ungkap Salman.
Ia menambahkan, keterlibatan generasi muda dalam ajang tersebut sangat krusial untuk melestarikan dan mengikis keterbatasan wadah penyalur bakat panjat tebing lokal.
“Ajang kompetisi panjat tebing kategori bouldering ini bukan sekadar perlombaan rutin tahunan, melainkan wujud konsistensi kita dalam mengembangkan dunia panjat tebing, khususnya di kalangan pemuda dan mahasiswa, serta menjadi wadah pembinaan atlet-atlet muda berbakat,” katanya.
Berbeda dari kategori panjat lainnya, bouldering menuntut ketelitian tinggi, kemampuan memecahkan masalah (problem solving), dan pengelolaan mental di bawah tekanan.
Setiap pemanjat mesti cermat membaca karakter jalur serta memperhitungkan setiap pitingan dan pijakan sebelum mengelurkan tenaga maksimal.
Selain menjadi ajang unjuk kebolehan dan pengasahan taktik, FBC VI 2026 difungsikan sebagai sarana konsolidasi antar komunitas pegiat alam terbuka dan atlet regional.
“Kompetisi ini tidak hanya menguji kekuatan fisik, ketahanan mental, dan kemampuan pemecahan masalah climber di jalur bouldering, tetapi juga dirancang untuk mempererat tali silaturahmi antar komunitas pencinta alam, atlet, dan penggiat alam bebas di tingkat regional,” tuturnya.
Melalui kejuaraan yang berlangsung selama tiga hari itu, MPA Fisipioneer berharap dapat melahirkan talenta baru yang siap bersaing di tingkat yang lebih tinggi, sekaligus mempromosikan nilai sportivitas kepada masyarakat luas.
“Saya berharap FBC VI 2026 tidak hanya sukses secara seremonial dan teknis, tetapi juga mampu menginspirasi masyarakat luas tentang pentingnya menjaga jiwa sportif, mencintai olahraga luar ruang, serta memperkenalkan nama besar FISIPIONEER secara lebih luas,” tandasnya.

