REDAKSI8.COM, BANJAR, Depth News – Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Maju Sejahtera di Desa Lok Baintan Luar, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, berhasil melaksanakan panen perdana ikan papuyu atau ikan betok hasil budidaya menggunakan kolam bundar, Senin pagi.
Panen perdana tersebut menjadi momentum penting dalam pengembangan budidaya ikan lokal di Kabupaten Banjar. Kegiatan ini turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Banjar M. Zaini serta Kepala Bidang Budidaya Ikan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah.

Keberhasilan panen ini menjadi bukti bahwa ikan papuyu yang selama ini dikenal sebagai ikan khas Kalimantan Selatan dapat dibudidayakan secara lebih modern dan efisien melalui penggunaan kolam bundar, bahkan pada lahan yang relatif terbatas.
Anggota DPRD Kabupaten Banjar, M. Zaini, mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan kelompok budidaya ikan tersebut dalam menghasilkan ikan papuyu lokal berkualitas.
Menurutnya, panen perdana ini merupakan hasil kerja sama antara DKPP Kabupaten Banjar dengan Kelompok Budidaya Ikan Maju Sejahtera melalui program pengembangan ikan lokal yang selama ini terus didorong pemerintah daerah.
“Alhamdulillah hari ini kita melaksanakan panen perdana ikan papuyu. Ini merupakan salah satu bentuk upaya kita menjaga dan mengembangkan ikan lokal khas daerah agar tetap lestari sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian hasil panen nantinya tidak hanya dijual untuk konsumsi, tetapi juga dipersiapkan sebagai indukan dan bibit guna mendukung keberlanjutan budidaya.

Menurut Zaini, langkah tersebut penting agar para pembudidaya tidak selalu bergantung pada pasokan bibit dari luar daerah sehingga biaya produksi dapat ditekan.
Meski selama masa pemeliharaan terdapat beberapa kendala, seperti serangan jamur pada sebagian kolam, namun secara umum hasil budidaya dinilai cukup berhasil dan memberikan harapan besar bagi pengembangan sektor perikanan air tawar di Kabupaten Banjar.
Lebih lanjut, Zaini menilai ikan papuyu asal Kabupaten Banjar memiliki cita rasa yang berbeda dibandingkan ikan sejenis dari daerah lain.
Menurutnya, ikan papuyu lokal memiliki rasa yang lebih manis dan khas sehingga memiliki nilai jual yang tinggi di pasaran.
Ia bahkan menceritakan pengalaman saat menyajikan ikan papuyu kepada tamu dari pemerintah pusat yang mengakui keunggulan rasa ikan khas Kalimantan Selatan tersebut.
Karena itu, ia berharap budidaya ikan papuyu terus berkembang dan dapat menjadi salah satu komoditas unggulan daerah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kita ingin ikan lokal menjadi kebanggaan daerah sekaligus menjadi sumber pendapatan masyarakat. Mudah-mudahan budidaya ini semakin maju dan berkembang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Budidaya Ikan DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program inovasi daerah bernama Intan Sikapayu atau Inovasi Tangguh Sinergis Kampung Ikan Papuyu.
Program tersebut bertujuan mengembangkan budidaya ikan papuyu sebagai komoditas lokal unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Menurut Bandi, selama ini budidaya ikan papuyu lebih banyak dilakukan menggunakan kolam tanah. Namun melalui inovasi terbaru, budidaya mulai ditransformasikan ke sistem kolam bundar yang dinilai lebih efektif dan mudah diterapkan oleh masyarakat.
“Panen hari ini merupakan model transformasi dari kolam tanah ke kolam bundar. Ini menjadi yang pertama dan menjadi contoh bagi desa-desa lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, penggunaan kolam bundar memiliki sejumlah keunggulan, terutama bagi masyarakat yang memiliki lahan terbatas.
Dengan ukuran yang lebih fleksibel, kolam bundar dapat ditempatkan di pekarangan rumah sehingga cocok untuk skala rumah tangga.
Selain itu, biaya pembuatannya relatif lebih terjangkau dibandingkan pembangunan kolam konvensional.
Tidak hanya efisien dari sisi lahan dan biaya, sistem kolam bundar juga dinilai lebih mampu menghadapi berbagai tantangan lingkungan.
Bandi menjelaskan bahwa kolam bundar dapat menjadi solusi dalam memitigasi risiko bencana banjir maupun kekeringan yang kerap terjadi di sejumlah wilayah.
Melalui sistem ini, kebutuhan air dapat dikelola lebih baik karena pergantian air tidak terlalu banyak dan kualitas air lebih mudah dipantau.
“Kolam bundar merupakan salah satu model budidaya masa depan. Selain efisien, sistem ini juga membantu mengurangi risiko kerugian akibat banjir maupun kekeringan,” ujarnya.
Dari sejumlah kolam bundar yang dikelola kelompok budidaya ikan di Desa Lok Baintan Luar, hasil panen perdana diperkirakan mencapai antara 200 hingga 300 kilogram ikan papuyu.
Jumlah tersebut dinilai cukup baik mengingat budidaya yang dilakukan masih berada pada tahap awal pengembangan dan merupakan proses adaptasi dari sistem kolam tanah menuju kolam bundar.
Menurut Bandi, masa transisi tersebut memang menjadi titik kritis dalam budidaya karena pembudidaya harus menyesuaikan teknik pemeliharaan dengan sistem yang baru.
Meski demikian, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa metode tersebut memiliki prospek yang menjanjikan untuk terus dikembangkan.
Keberhasilan panen perdana di Desa Lok Baintan Luar menjadi modal penting bagi Pemerintah Kabupaten Banjar untuk memperluas program budidaya ikan papuyu menggunakan kolam bundar.
DKPP Kabupaten Banjar mencatat saat ini terdapat sedikitnya 10 desa yang menjadi lokasi replikasi program Intan Sikapayu.
Pada tahun-tahun mendatang, pembinaan akan terus dilakukan, termasuk pengembangan unit pembenihan agar kelompok budidaya mampu memproduksi bibit sendiri.
Dengan demikian, biaya produksi dapat ditekan dan keberlanjutan usaha budidaya ikan papuyu semakin terjamin.
Keberhasilan panen perdana ini tidak hanya menunjukkan potensi besar ikan papuyu sebagai komoditas unggulan daerah, tetapi juga membuktikan bahwa inovasi teknologi budidaya dapat menjadi solusi bagi masyarakat dalam meningkatkan produktivitas perikanan sekaligus menjaga kelestarian ikan lokal khas Kalimantan Selatan.



