Di balik dinding ruang kamarnya, seorang anak kini mesti bertarung dengan bayang-bayang perundungan yang dialaminya.
Ia merupakan korban perundungan (bullying) di Kota Banjarbaru, yang kini tak hanya kehilangan keceriaan masa kecilnya, tetapi mengalami trauma.
Dampak psikologis itu nyata, merembet hingga ke kondisi fisiknya yang terus menurun drastis, menyusutkan berat badannya hari demi hari akibat tekanan batin yang tak kunjung reda.
Namun, di saat sang anak membutuhkan ruang yang damai untuk menyembuhkan luka batinnya, badai lain justru berkecamuk di atas kepalanya.
Ego orang dewasa kini mengaburkan esensi perlindungan anak.
Alih-alih duduk bersama mencari solusi, orang tua korban maupun orang tua pelaku justru memilih jalan pengadilan, saling lapor ke pihak kepolisian.
Kedua belah pihak bersikukuh dengan kebenaran versi masing-masing, mengunci pintu komunikasi dalam-dalam.
Dampaknya, kasus yang sudah berjalan selama beberapa bulan itu menemui jalan buntu.
Kondisi deadlock ini membiarkan waktu berlalu tanpa ada titik terang, sementara trauma sang anak kian mengakar.
REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Kondisi pelik ini memantik perhatian serius dari Wali Kota Banjarbaru, Lisa Halaby.
Baginya, prioritas utama hari ini bukanlah siapa yang menang atau kalah dalam pusaran hukum, melainkan nasib anak yang menjadi korban.
Lisa telah menginstruksikan dinas terkait untuk turun tangan memberikan pendampingan psikologis secara intensif.
Ia menegaskan fokus utama saat ini adalah pemulihan total bagi korban agar tidak mengalami trauma berkepanjangan.
Wali Kota berharap konflik ego antar orang tua tidak sampai mengorbankan dan merusak masa depan anak-anak mereka.
“Intinya kita fokus terhadap korban, jangan sampai anak jadi trauma. Kita mencoba melakukan upaya mediasi terhadap pelaku dan korban. Jangan sampai sikap orang tua justru membuat anak trauma, sudahlah berdamai, kita fokus kepada anak,” tegas Walikota Lisa.
Di sisi hukum, aparat kepolisian sebenarnya tidak tinggal diam.
Menyadari kasus tersebut melibatkan anak di bawah umur, polisi tengah mengupayakan pendekatan keadilan restoratif (restorative justice).
Langkah tersebut diambil demi mengedepankan masa depan anak dan pemulihan keadaan, bukan sekadar penjatuhan hukuman.
Berbagai upaya komunikasi, mediasi, hingga pertemuan lanjutan terus diupayakan oleh pihak kepolisian dan instansi terkait untuk mencari jalan keluar yang adil bagi seluruh pihak.
Namun sayangnya, tembok perbedaan pandangan di antara kedua orang tua masih berdiri kokoh.
Ego yang kuat membuat proses penyelesaian belum juga mencapai kata sepakat.
Kini, di tengah proses hukum yang masih berjalan di tempat, publik hanya bisa berharap supaya para orang dewasa dapat menurunkan ego mereka.
Sebab, setiap hari yang terbuang dalam konflik ini adalah hari di mana seorang anak kehilangan haknya untuk kembali tersenyum dan menatap masa depan yang cerah.
Jika trauma akibat bullying tidak ditangani dan berkepanjangan hingga anak tumbuh dewasa, para ahli (longitudinal studies seperti yang diterbitkan dalam The Lancet dan JAMA Psychiatry) memperingatkan sejumlah risiko fatal bagi masa depan mereka, berikut Redaksi8.com menurunkan hasil penelusuran;
1. Gangguan Mental Kronis di Masa Dewasa
Luka emosional yang dibiarkan akan bertransformasi menjadi masalah kesehatan mental jangka panjang.
Korban bullying masa kecil memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami;
- Depresi berat dan gangguan kecemasan (anxiety disorder).
- Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dengan gejala kilas balik (flashback) atau mimpi buruk mengenai masa lalunya.
- Munculnya kecenderungan self-harm (menyakiti diri sendiri) hingga pikiran untuk bunuh diri (suicidal ideation).
2. Krisis Kepercayaan (Severe Trust Issues)
Anak yang terbiasa dikhianati atau disakiti oleh teman sebayanya akan kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat di masa depan. Mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang selalu curiga, takut ditolak, mengalami kecemasan sosial (social anxiety), dan cenderung mengisolasi diri.
3. Penurunan Prestasi dan Kegagalan Karir
Rasa cemas yang konstan merusak kemampuan konsentrasi dan memori anak.
Menurut data dari StopBullying.gov, trauma ini memicu penurunan prestasi akademik di sekolah, yang jika terbawa hingga dewasa, membuat mereka rentan mengalami kesulitan dalam mempertahankan pekerjaan, kurang berani mengambil peluang, atau memiliki pendapatan ekonomi yang lebih rendah.
4. Dampak Psikosomatis dan Kesehatan Fisik
Stres emosional yang tertimbun bertahun-tahun mewujud dalam bentuk keluhan fisik nyata (psikosomatis).
Para ahli menemukan mantan korban bullying sering mengalami sakit kepala kronis, gangguan pencernaan, insomnia akut, hingga penurunan sistem kekebalan tubuh yang membuat mereka mudah sakit-sakitan saat dewasa.
5. Risiko Siklus Kekerasan (Poly-victimization atau Re-victimization)
Tanpa terapi yang tepat, konsep diri yang rusak membuat orang dewasa mantan korban perundungan rentan terjebak kembali dalam hubungan yang toksik atau abusif (baik dalam pernikahan maupun dunia kerja), karena mereka merasa “layak” diperlakukan buruk. Di sisi lain, sebagian kecil korban mungkin menyimpan dendam mendalam dan berisiko menjadi pelaku kekerasan di kemudian hari.
Ingat! dampak bullying tidak akan hilang begitu saja hanya dengan bertambahnya usia.
Dukungan psikologis yang cepat dari orang tua, guru dan psikolog profesional sangat krusial untuk membantu anak memproses traumanya demi tidak merusak masa depan mereka.



