REDAKSI8.COM, KALSEL – Dinas Perindustrian (Disperin) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali menggelar Pelatihan Teknologi Pengolahan Limbah Sasirangan se-Kalimantan Selatan Batch 2, Senin (18/5/26).
Pelatihan yang dibuka langsung Kepala Disperin Kalsel, Miftahul Chair itu difokuskan untuk meningkatkan kapasitas pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Sasirangan dalam mengelola limbah produksi agar lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Miftahul Chair menegaskan, kain Sasirangan kini tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga identitas khas Banjar yang terus berkembang di Kalimantan Selatan.
“Kain Sasirangan adalah warisan budaya Banjar yang telah menembus batas lokal dan menjadi kebanggaan Kalimantan Selatan. Motifnya yang khas, proses pembuatannya yang sarat makna, dan nilai estetikanya telah menjadikan Sasirangan sebagai simbol identitas daerah yang terus berkembang,” ujarnya.
Namun demikian, di balik perkembangan industri tersebut, ia mengingatkan adanya persoalan limbah cair dari proses pewarnaan dan pencucian kain yang perlu mendapat perhatian serius.
“Limbah ini mengandung zat kimia yang dapat merusak ekosistem air, mengganggu kesehatan masyarakat, dan menurunkan kualitas lingkungan hidup apabila tidak dikelola dengan baik,” jelasnya.
Menurutnya, pelatihan ini menjadi langkah penting agar para pelaku usaha mampu menerapkan teknologi pengolahan limbah yang tepat guna dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Melalui pelatihan ini, peserta akan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan teknologi pengolahan limbah yang tepat guna,” katanya.
“Kami juga mendorong lahirnya inovasi lokal berbasis kearifan lingkungan, serta kolaborasi antara IKM, komunitas, dan pemerintah dalam membangun ekosistem industri Sasirangan yang berkelanjutan,” sambungnya.
Oleh karena itu, Disperin Kalsel menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi pelaku IKM, termasuk dalam penguatan kapasitas teknologi dan pengelolaan lingkungan.
“Kami percaya bahwa industri yang kuat adalah industri yang adaptif, inovatif, dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Miftahul Chair mengajak seluruh peserta memanfaatkan pelatihan tersebut guna memperkuat jejaring dan pengembangan industri Sasirangan di daerahnya masing-masing.
“Selamat mengikuti pelatihan kepada seluruh peserta. Mari kita jadikan industri Sasirangan sebagai teladan dalam pengembangan industri kreatif berbasis budaya dan lingkungan,” tutupnya.



