REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) diperkirakan meningkat seiring prediksi musim kemarau panjang yang akan berlangsung selama 8–10 bulan.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Banjarbaru, Harun Arrasyid menyampaikan, berdasarkan hasil koordinasi bersama BMKG, musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih panjang dengan puncak pada Agustus hingga November.

“Berdasarkan hasil koordinasi dengan BMKG, akhir April kita sudah mulai memasuki musim kemarau yang diperkirakan berlangsung sekitar 8 sampai 10 bulan ke depan,” ujarnya, Jum’at (17/4/26).
Ia menjelaskan, pada periode puncak kemarau, kondisi cuaca diprediksi semakin ekstrem akibat pengaruh fenomena iklim global yang berdampak ke peningkatan suhu dan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah, termasuk Kalsel dan Kota Banjarbaru.
“Puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus sampai November, di mana kondisi cuaca akan semakin panas dan berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.
Selain itu, faktor angin kencang saat musim kemarau juga dinilai mempercepat penyebaran api, sehingga potensi karhutla bisa meluas dalam waktu singkat.
“Kondisi panas dan angin kencang ini yang membuat api sangat mudah meluas, bahkan di lahan yang vegetasinya masih terlihat hijau,” katanya.
Menurutnya, pola tersebut bukan hal yang baru karena siklus kemarau panjang dan karhutla sebelumnya juga pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
“Kita pernah mengalami kondisi serupa pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga ini menjadi perhatian serius untuk kita semua agar lebih waspada,” ucapnya.
Dengan durasi kemarau yang cukup panjang, Harun mengingatkan, potensi kekeringan, penurunan kualitas udara, hingga gangguan kesehatan masyarakat juga perlu diantisipasi sejak dini.
“Masyarakat kami imbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan mengurangi aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran,” tuntasnya.



