REDAKSI8.COM, BARITO KUALA – Masalah sampah organik, terutama tumpukan jeruk busuk yang selama ini menjadi beban lingkungan di Desa Danda Jaya, kini mulai menemukan titik terang.
Melalui sentuhan inovasi 14 mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM), limbah yang dulunya tak bernilai kini dipoles menjadi produk bernilai tambah.


Membawa semangat ‘Bina Desa Berdampak’, tim kolaborasi dari Fakultas Teknik, Pertanian dan MIPA ini tidak sekadar datang untuk menjalankan tugas kampus.
Mereka hadir membawa solusi atas kegelisahan warga terkait manajemen sampah dan potensi jeruk yang terbuang sia-sia saat musim panen tiba.
Ketua Kelompok, Achmad Akmal Maulana mengungkapkan, langkah awal mereka dimulai dengan mendengarkan keresahan warga, bukan sekadar membawa teori dari bangku kuliah.
“Kami ingin membantu masyarakat mengelola komoditas lokal agar memiliki nilai tambah sekaligus mengurangi sampah jeruk busuk yang ada di Desa Danda Jaya,” ujarnya.
Melalui pendekatan berbasis kebutuhan (need-based program), tim yang dibimbing oleh Ir. Abdul Haris.
ini menginisiasi pelatihan pembuatan minyak atsiri dan sirup jeruk bagi ibu-ibu PKK.
Inovasi tersebut menjadi jawaban konkret atas melimpahnya komoditas jeruk yang seringkali membusuk sebelum sempat dipasarkan.
Tak hanya menyasar kelompok ibu-ibu, program yang berlangsung sepanjang Januari 2026 ini juga menyentuh aspek lingkungan mendasar dengan melibatkan generasi muda.
Edukasi Lingkungan Siswa SD diajak mempraktikkan pembuatan lubang biopori untuk konservasi tanah.
Teknis Pertanian Diskusi mendalam mengenai pemeliharaan sistem irigasi guna menjaga produktivitas sawah.
Ketahanan Pangan Kolaborasi dalam pengembangan budidaya jamur yang sudah ada di desa.
Akmal memastikan, setiap solusi yang ditawarkan telah melalui uji coba laboratorium dan praktik sebelum diperkenalkan ke masyarakat.
Hal ini dilakukan agar program bersifat aplikatif dan berkelanjutan.
Kehadiran mahasiswa ULM ini disambut hangat oleh warga. Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa ada harapan besar bagi kemandirian desa melalui pengabdian ini.
Bagi ULM, program tersebut merupakan wadah mengasah kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah bagi mahasiswa sebagai agen perubahan.
Pihak universitas berkomitmen agar program ini tidak menjadi kegiatan seremonial belaka. Dengan penguatan regulasi dan kolaborasi berkelanjutan, diharapkan Desa Danda Jaya mampu secara mandiri mengelola sampahnya dan terus memproduksi produk turunan jeruk yang telah diajarkan.



