REDAKSI8.COM, KABUPATEN BANJAR – Masalah berat badan kurang (underweight) pada anak seringkali dianggap sebagai persoalan medis semata.
Namun bagi 10 mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM), solusinya justru ada di dapur keluarga dan kekayaan alam lokal.

Melalui program bertajuk ‘JELITA’ (Jejaring Literasi), kolaborasi mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Pertanian itu terjun ke Desa Mandiangin Barat, Kecamatan Karang Intan.
Mereka membawa misi khusus untuk memberdayakan peran ayah dan ibu sebagai garda terdepan pemulihan gizi anak melalui inovasi pangan lokal.
Program itu bukanlah proyek singkat yang datang lalu pergi.
Ketua Kelompok Muhammad Hefni Camali menegaskan, JELITA merupakan bentuk tanggung jawab moral atas temuan mereka pada pengabdian sebelumnya.
“Kami melihat persoalan kasus underweight pada anak-anak masih perlu pendampingan berkelanjutan. Karena itu, kami kembali dengan program intervensi yang lebih terstruktur dan berbasis keluarga, khususnya pemberdayaan ibu dalam pemenuhan gizi anak,” ujarnya.
Berangkat dari identifikasi masalah sejak awal 2025, tim yang dibimbing oleh Hadrianti H.D. Lasari, menemukan, kunci penanganan gizi terletak pada literasi orang tua.
Salah satu terobosan yang menarik perhatian warga adalah demonstrasi memasak pakis dan ikan haruan.
Dua bahan yang sangat melimpah di Kalimantan Selatan ini dikreasikan secara modern agar disukai anak-anak tanpa menghilangkan nilai gizinya.
Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sepanjang Desember 2025 ini mencakup kelas ayah peduli gizi, mendobrak stigma urusan gizi hanya tugas ibu.
Lalu literasi gizi ibu, edukasi mendalam mengenai pola asuh dan asupan nutrisi.
Kemudian pendampingan keluarga: Intervensi langsung ke rumah tangga yang membutuhkan.
Selanjutnya buku resep inovasi Panduan memasak kreatif yang dibagikan agar masyarakat bisa mempraktikkannya secara mandiri.
Respons warga Desa Mandiangin Barat tergolong luar biasa. Hefni mencatat tingkat kehadiran peserta mencapai 100 persen, bahkan melampaui target yang ditetapkan.
Hal ini menandakan kesadaran kritis masyarakat akan pentingnya kesehatan anak mulai tumbuh pesat.
Bagi para mahasiswa, terjun ke lapangan adalah ‘laboratorium hidup’ untuk menguji kematangan ilmu kedokteran dan pertanian mereka.
Sementara bagi desa, program ini menjadi fondasi untuk membangun kemandirian pangan dan kesehatan.
ULM sendiri berkomitmen untuk tidak memutus rantai kebaikan ini.
Melalui skema Bina Desa Berdampak, program JELITA diharapkan menjadi model percontohan nasional dalam menangani isu gizi buruk melalui pendekatan komunitas dan kearifan lokal.



