REDAKSI8.COM, KALSEL – Musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung lama hingga beberapa bulan ke depan mulai berdampak pada sektor pertanian di Kalimantan Selatan (Kalsel).
Hingga 31 Juli 2026, Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kalsel mencatat seluas 6.691 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan, dan sekitar 1,3 hektare diantaranya telah mengalami puso.

Kepala BPTPH Kalimantan Selatan, Lestari Fatria Wahyuni menyampaikan, pihaknya terus memperkuat pendampingan kepada petani melalui petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) untuk mengantisipasi dampak musim kemarau, termasuk serangan hama dan ancaman gagal panen.
“Sebagai unit pelaksana teknis Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, kami terus melakukan pengawalan di lapangan. Sesuai prediksi BMKG, puncak kemarau terjadi pada Juli hingga September, bahkan berpotensi berlangsung lebih panjang karena pengaruh El Nino,” ujarnya, Senin (3/8/26).
Sementara pada tanaman jagung, kekeringan terjadi di lahan seluas 5,5 hektare dan belum ditemukan laporan puso.
Sedangkan wilayah terdampak terluas berada di Kabupaten Tanah Laut dengan luas 3.383 hektare, disusul Barito Kuala 1.919 hektare, Kabupaten Banjar 622 hektare, dan Tanah Bumbu 446 hektare.
Adapun lahan puso tercatat berada di Kabupaten Barito Kuala seluas 1 hektare dan Kota Banjarbaru sekitar 0,3 hektare.
Lestari menilai luas lahan terdampak masih berpotensi bertambah apabila kondisi cuaca kering terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
“Seiring masih tingginya suhu udara dan belum turunnya hujan, kami memperkirakan luas dampak kekeringan masih berpotensi bertambah,” katanya.
Mengantisipasi kondisi tersebut, BPTPH Kalsel menginstruksikan seluruh petugas POPT untuk memantau ketersediaan air di areal persawahan serta berkoordinasi dengan dinas pertanian kabupaten kota dan Balai Wilayah Sungai Kementerian Pekerjaan Umum guna mengoptimalkan pompanisasi dari sumber air yang masih tersedia.
Di wilayah pasang surut seperti Barito Kuala, petani juga didorong memanfaatkan sumur pertanian sebagai alternatif sumber air karena sebagian saluran memiliki tingkat keasaman yang tinggi.
“Pemerintah berharap pelaksanaan hujan buatan dapat membantu mengurangi dampak kekeringan,” ungkapnya.
Tak hanya lahan tanam, musim kemarau juga berdampak pada persemaian padi. Hingga akhir Juli 2026, sebanyak 275 kilogram persemaian terdampak kekeringan, dengan 125 kilogram di antaranya mengalami puso.
BPTPH juga mengingatkan kepada para petani agar tidak membakar jerami usai panen karena berpotensi memicu kebakaran lahan saat musim kemarau.
“Kami mengajak petani untuk tidak membakar jerami setelah panen. Jerami dapat dimanfaatkan kembali sebagai kompos melalui pengolahan lahan tanpa bakar sehingga lebih ramah lingkungan dan bermanfaat bagi kesuburan tanah,” pungkasnya.



