REDAKSI8.COM, NASIONAL — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menerjang sejumlah wilayah di Indonesia sepanjang tahun 2026 menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Berdasarkan data pemantauan Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan, akumulasi luas lahan yang terbakar di seluruh Indonesia hingga Juli 2026 telah mencapai 202.004,30 hektare.

Pulau Kalimantan dan Sumatera menjadi dua wilayah penyumbang luasan Karhutla terbesar. Di Kalimantan, Kalimantan Barat mencatatkan kerusakan lahan terluas mencapai 38.310,86 hektare, disusul Kalimantan Timur (8.019,63 ha), Kalimantan Selatan (7.634,46 ha), serta Kalimantan Tengah (3.657,00 ha). Sementara di Sumatera, Provinsi Riau mencatat kebakaran seluas 15.738,92 hektare dan Kepulauan Riau seluas 5.760,90 hektare.
Dampak pekatnya kabut asap dari paparan Karhutla kini mengancam kesehatan puluhan juta jiwa.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sebanyak 10.674.201 jiwa penduduk di wilayah terdampak berada dalam risiko tinggi terpapar kabut asap.
Kondisi paling mengkhawatirkan tercatat di Provinsi Sumatera Selatan.
Dinas Kesehatan Sumsel melaporkan akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dari Januari hingga September 2026 mencapai 401.191 kasus.
Lonjakan signifikan terjadi pada September lalu dengan 52.483 kasus baru, dan terus bertambah sebanyak 11.359 kasus pada kurun waktu 1 hingga 9 Oktober 2026.
Kualitas udara di beberapa kabupaten di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat juga sempat menyentuh kategori Berbahaya hingga Sangat Tidak Sehat, memicu lonjakan gangguan pernapasan terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Hingga per 12 Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan masih terdapat sekitar 639 hektare lahan aktif yang terbakar dan memerlukan pemadaman intensif di enam provinsi prioritas, dengan titik terberat berada di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.
Guna menanggulangi Karhutla yang masih membara, BNPB bersama TNI, Polri, dan relawan telah mengerahkan lebih dari 60.000 personel gabungan untuk operasi pemadaman darat.
Selain itu, belasan armada udara digerakkan untuk melakukan water bombing serta memaksimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebelum memasuki puncak musim hujan di pertengahan Oktober.







