REDAKSI8.COM, MAKKAH — Menjelang pelaksanaan puncak ibadah haji Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), Tim Kesehatan Kloter BDJ 06 bergerak intensif melakukan visitasi menyeluruh kepada para jemaah haji di hotel pemondokan, Minggu (24/5/2026). Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh jemaah, khususnya lanjut usia (lansia) dan kategori risiko tinggi (risti), berada dalam kondisi sehat dan siap menjalani fase paling berat dalam rangkaian ibadah haji.
Di tengah suhu panas ekstrem Kota Makkah dan meningkatnya kepadatan jutaan jemaah dari berbagai negara, tim kesehatan memilih pola pelayanan jemput bola dengan metode door to door. Satu per satu kamar jemaah didatangi guna memantau kondisi fisik, mengecek tekanan darah, memastikan konsumsi obat berjalan baik, hingga memberikan edukasi kesehatan secara langsung.

Tim kesehatan BDJ 06 terdiri dari dua orang Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), yakni dr. Tuti Alawiyah dari Puskesmas Teluk Dalam Banjarmasin dan Aminulah, AMK dari RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin, serta satu Petugas Haji Daerah (PHD) bidang kesehatan, dr. Nofa Prima dari RSUD Ulin Banjarmasin.
Pelayanan ini menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesiapan fisik jemaah sebelum memasuki Armuzna, yang dikenal sebagai fase paling menguras tenaga dalam ibadah haji.

Petugas Kesehatan Haji Kloter BDJ 06, dr. Tuti Alawiyah, menjelaskan bahwa sebagian jemaah yang masuk kategori risiko tinggi memiliki penyakit bawaan dan keterbatasan aktivitas sehingga membutuhkan pengawasan lebih intensif.
“Pelayanan dilakukan langsung melalui visitasi ke kamar jemaah secara door to door agar pemantauan kesehatan berjalan maksimal,” ujar dr. Tuti Alawiyah.
Menurutnya, kondisi cuaca Makkah yang sangat panas dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius tim kesehatan. Suhu tinggi berpotensi menyebabkan kelelahan, dehidrasi, hingga penurunan kondisi fisik apabila jemaah tidak menjaga stamina dengan baik.
Karena itu, selain pemeriksaan kesehatan, tim medis juga memberikan edukasi langsung kepada jemaah dan pendamping terkait pentingnya pengaturan aktivitas, pola makan, konsumsi cairan, waktu istirahat, hingga penggunaan obat rutin selama berada di Tanah Suci.
dr. Nofa Prima selaku dokter PHD kesehatan mengingatkan para jemaah agar mulai membatasi aktivitas fisik yang tidak terlalu penting dan memfokuskan tenaga untuk menghadapi Armuzna.
“Jemaah diimbau mulai menghemat tenaga jelang Armuzna. Jangan memaksakan diri melakukan aktivitas fisik berlebihan sebelum puncak haji,” katanya.
Ia menekankan bahwa kesiapan fisik memiliki peranan sangat penting dalam kelancaran pelaksanaan ibadah haji, terutama saat jutaan jemaah berkumpul di Arafah, Muzdalifah, dan Mina dalam kondisi cuaca yang menantang.

Sementara itu, Aminulah, AMK menambahkan bahwa meningkatnya jumlah jemaah dunia di Kota Makkah menjelang puncak haji membuat pengawasan kesehatan harus dilakukan lebih ketat dan berkelanjutan.
“Tim kesehatan kloter terus melakukan pengawasan langsung ke kamar jemaah. Ini langkah nyata untuk memastikan jemaah, terutama lansia dan risiko tinggi, tetap sehat menghadapi puncak haji,” ujarnya.
Menurutnya, disiplin menjaga kesehatan menjadi kunci utama agar jemaah mampu menjalani seluruh tahapan ibadah dengan baik. Ia pun mengimbau seluruh jemaah agar lebih banyak beristirahat, memperhatikan asupan cairan, serta tidak memaksakan diri menjalankan aktivitas sunnah yang dapat menguras energi.
“Puncak haji membutuhkan tenaga dan kondisi fisik yang kuat. Karena itu jemaah diminta menjaga stamina, memperbanyak istirahat, dan tidak memaksakan diri,” pungkasnya.
Dengan pelayanan kesehatan yang dilakukan secara intensif dan menyentuh langsung ke kamar-kamar jemaah, Tim Kesehatan BDJ 06 berharap seluruh jemaah dapat menjalani puncak ibadah haji dengan aman, sehat, dan lancar hingga seluruh rangkaian ibadah selesai dilaksanakan.



