REDAKSI8.COM, TABALONG – Penantian panjang masyarakat Kecamatan Kalua, Kabupaten Tabalong, untuk memiliki stadion sepak bola yang representatif akhirnya berubah menjadi kekecewaan. Proyek pembangunan stadion yang menelan anggaran lebih dari Rp 7 miliar kini menjadi sorotan warga karena dinilai belum mencerminkan kualitas pembangunan yang diharapkan masyarakat.
Selama lebih dari 25 tahun, warga Kalua mendambakan hadirnya lapangan sepak bola yang layak sebagai pusat kegiatan olahraga dan pembinaan generasi muda. Namun setelah proyek rampung, berbagai kondisi di lapangan justru memicu kritik dan pertanyaan publik terkait kualitas pekerjaan maupun penggunaan anggaran pembangunan.
Berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat, total anggaran pembangunan stadion mencapai lebih dari Rp 7 miliar. Rinciannya sekitar Rp7 miliar untuk pembangunan tribun stadion sepak bola dengan rincian, Nilai proyek pada tahun 2017 (RP.1.350.000.000), tahun 2021 (RP.923.211.000), tahun 2023 (RP.1.319.341.329) dan pada tahun 2025 (RP.4.262.470.600).

Besarnya anggaran tersebut dinilai tidak sebanding dengan kondisi fasilitas yang ada saat ini. Warga menyebut permukaan lapangan masih belum rata dan masih ditemukan batu di sejumlah titik yang dinilai membahayakan pemain. Selain itu, kualitas rumput juga dianggap belum memenuhi standar untuk digunakan secara maksimal dalam pertandingan sepak bola.
Sorotan tajam juga tertuju pada kondisi tribun stadion. Sejumlah bagian tribun disebut belum selesai secara maksimal dan tampak seperti bangunan mangkrak. Tempat duduk penonton disebut hanya berupa semen tanpa plester maupun cat.
Tiang pagar juga terlihat belum dipoles, sementara kondisi toilet dinilai sangat kotor dan kurang terawat. Di beberapa bagian dinding stadion bahkan tampak penuh coretan.
Kondisi tersebut memunculkan rasa kecewa masyarakat yang berharap stadion dapat menjadi kebanggaan baru bagi Kecamatan Kalua.
“Penantian masyarakat Kalua sudah sangat lama. Kami berharap punya stadion yang bagus dan layak, tapi hasilnya justru mengecewakan dan tidak sesuai harapan,” ujar salah satu warga Kalua, Akhmad Syarif.
Warga pun mendesak adanya transparansi dan pertanggungjawaban atas penggunaan anggaran pembangunan stadion yang mencapai belasan miliar rupiah tersebut. Masyarakat meminta pemerintah segera melakukan perbaikan agar stadion benar-benar dapat dimanfaatkan secara layak oleh masyarakat dan para atlet muda di daerah.
Beberapa tuntutan yang disampaikan warga di antaranya meminta penjelasan detail terkait penggunaan anggaran, percepatan perbaikan lapangan sepak bola, hingga kejelasan mengenai kondisi tribun yang dinilai belum selesai secara optimal meski telah menghabiskan biaya besar.

Masyarakat juga menegaskan pentingnya fungsi kontrol sosial dalam sistem demokrasi. Warga berharap masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan elemen pemuda, tetap kritis dalam mengawasi penggunaan anggaran publik agar tidak terjadi penyimpangan yang merugikan rakyat.
Persoalan stadion tersebut sempat dibahas dalam diskusi antara masyarakat dengan Kepala Bidang Cipta Karya Kabupaten Tabalong, Wahyu. Pertemuan yang berlangsung selama beberapa jam itu membahas berbagai persoalan terkait kondisi stadion sepak bola Kalua.
Dalam diskusi tersebut, Wahyu disebut mengakui masih adanya kekurangan pada pengerjaan lapangan sepak bola. Ia berjanji akan segera memerintahkan pihak vendor untuk melakukan perbaikan, mulai dari pemerataan permukaan lapangan, pembersihan batu-batu di area lapangan, hingga pemupukan rumput agar tumbuh lebih baik dan layak digunakan.
Sementara terkait pembangunan tribun yang menelan anggaran sekitar Rp7 miliar, Wahyu menyebut proyek tersebut dikerjakan pada tahun 2020 sebelum dirinya menjabat sebagai Kabid Cipta Karya. Ia mengaku tidak mengetahui secara detail proses pengerjaan maupun aspek teknis proyek tersebut.
Pemerintah Kabupaten Tabalong juga disebut akan kembali menganggarkan dana sekitar Rp2 miliar untuk memperbaiki tribun stadion yang mengalami kerusakan dan belum berfungsi optimal.

Dalam forum diskusi itu turut muncul dorongan agar persoalan tribun stadion yang dinilai mangkrak dapat ditelusuri lebih lanjut oleh aparat penegak hukum. Masyarakat meminta adanya kejelasan mengenai dinas pelaksana proyek, vendor pengerjaan, hingga status audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Kekecewaan warga terhadap kondisi stadion juga memunculkan kritik terhadap lemahnya pengawasan proyek pembangunan pemerintah. Sebagian masyarakat menilai stadion yang seharusnya menjadi simbol kemajuan olahraga daerah justru berubah menjadi polemik karena kualitas pembangunan yang dianggap belum memuaskan.
Meski pemerintah telah menyampaikan rencana perbaikan, masyarakat Kalua menegaskan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ada kejelasan pertanggungjawaban atas penggunaan anggaran, khususnya terkait pembangunan tribun yang dinilai mangkrak akibat perencanaan yang dianggap kurang matang.
Warga berharap pemerintah daerah ke depan lebih serius dalam merancang, mengawasi, dan mengevaluasi proyek pembangunan fasilitas publik agar anggaran yang berasal dari uang rakyat benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.




