REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Dekan FPIK ULM, Untung Bijaksana menegaskan, banjir bukan sekadar masalah genangan, melainkan ancaman nyata bagi ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat, khususnya di sektor perikanan.
“Ketika banjir terjadi, kolam petani bisa tenggelam dan usaha mereka terganggu. Ikan yang seharusnya dipanen dari kolam justru bisa lepas ke perairan umum. Ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa ditangani secara parsial,” kata Dekan di acara Seminar Aksi Sosial Lingkungan yang dilaksanakan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Piranha Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Sabtu (07/02/2026).

Menurut Untung, perubahan peruntukan lahan dan berkurangnya vegetasi menjadi faktor utama yang mempercepat aliran air permukaan.
Oleh karena itu, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan rehabilitasi lahan.
“Kegiatan hari ini diawali dengan seminar. Alhamdulillah kami mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup. Insyaallah siang atau sore nanti akan dilakukan penanaman seribu pohon, terdiri dari 500 pohon kopi dan 500 pohon buah-buahan,” ujarnya.

Selain faktor lahan pikir Dekan, masalah perilaku manusia seperti pembuangan sampah sembarangan dianggap sebagai pemicu tersumbatnya drainase yang memperparah banjir.
Sebagai bentuk tanggung jawab institusi, FPIK ULM mulai menerapkan kebijakan disiplin sampah bagi seluruh civitas akademika sebagai langkah preventif banjir di lingkungan terkecil.
“Salah satu langkah yang akan kami lakukan adalah membiasakan civitas akademika membersihkan sampah plastik selama 15 menit sebelum perkuliahan dimulai. Sampah yang terkumpul nantinya akan dikirim ke Fakultas Teknik untuk didaur ulang,” pungkas Untung Bijaksana.
Selanjutnya Ketua Mapala Piranha, Muhammad Furqon menyatakan, kesadaran kolektif sangat dibutuhkan agar banjir tidak menjadi agenda rutin tahunan.
“Melalui seminar ini kami ingin meningkatkan kesadaran bahwa banjir tidak terjadi begitu saja. Salah satu faktor yang sering kami temukan di lapangan adalah masalah sampah,” kata Furqon.
Selama ini ujarnya, Mapala Piranha tidak hanya bergerak pada sisi edukasi, tetapi juga turun langsung dalam aksi kemanusiaan saat bencana terjadi.
“Kami terus mengingatkan agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan, karena dampaknya bisa sangat besar terhadap lingkungan,” tegasnya.

Kegiatan yang melibatkan mahasiswa dan pelajar SMA sederajat se-Kota Banjarbaru itu menyoroti krisis lingkungan yang menjadi akar penyebab banjir.
Sebagai langkah mitigasi, seminar tersebut dirangkai dengan aksi penanaman pohon guna memulihkan daya serap air di hulu.



