REDAKSI8.COM, BANJAR – Upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas terus diperkuat di Kabupaten Banjar. Yayasan Borneo Urban Lab (BUL) bersama BPBD Provinsi Kalimantan Selatan dan BPBD Kabupaten Banjar menggelar Sosialisasi Program Desa Tangguh Bencana (DESTANA) di Desa Kiram, Kecamatan Karang Intan, Tahun 2026.
Kegiatan yang diikuti 70 peserta ini melibatkan unsur Rukun Tetangga (RT), Linmas, aparat desa, tokoh masyarakat, serta warga setempat. Sosialisasi difokuskan pada peningkatan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran permukiman, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir musiman, tanah longsor, serta cuaca ekstrem yang kerap terjadi di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Banjar, H. Abdullah Fahtar, SE., MM, menegaskan bahwa Desa Kiram merupakan wilayah dengan tingkat risiko bencana yang perlu mendapat perhatian serius, terutama pada jalur irigasi dan kawasan permukiman yang terdampak langsung saat musim hujan.
“Program DESTANA ini menitikberatkan pada kesiapan masyarakat sebagai garda terdepan penanggulangan bencana. Edukasi dan pengorganisasian warga menjadi kunci agar dampak bencana dapat diminimalkan,” ujarnya.
Program DESTANA di Desa Kiram merupakan bentuk kolaborasi strategis antara Borneo Urban Lab, BPBD Provinsi Kalsel, BPBD Kabupaten Banjar, serta dukungan penuh dari PT PLN Wilayah Kalselteng. Sinergi ini menjadi contoh konkret keterlibatan lintas sektor dalam membangun ketangguhan desa.

Sebagai organisasi non-profit yang berbasis di Banjarmasin dan dipimpin oleh Kesuma Anugerah Yanti, Borneo Urban Lab selama ini konsisten mengangkat isu lingkungan, inklusivitas, dan pemberdayaan anak muda untuk menciptakan wilayah yang tahan terhadap dampak perubahan iklim.
Dalam sosialisasi tersebut, peserta dibekali pemahaman terkait pemetaan risiko bencana desa, penanggulangan banjir dan kebakaran hutan/lahan, antisipasi cuaca ekstrim, pengenalan sistem peringatan dini bencana.
Selain itu, program ini juga mendorong pembentukan Kelompok Siaga Bencana (KSB) di tingkat desa dan kelompok masyarakat sebagai ujung tombak respon cepat ketika terjadi bencana.
DESTANA Desa Kiram tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi diarahkan pada tindakan nyata, meliputi:
Mitigasi struktural, seperti penghijauan hutan, penanaman pohon, pembangunan terasering, perbaikan drainase, serta pemeliharaan dam dan jembatan.
Mitigasi non-struktural, melalui penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Desa dan edukasi berkelanjutan kepada warga.
Pemanfaatan Dana Desa, untuk mendukung sarana dan prasarana kesiapsiagaan, termasuk pemasangan rambu bahaya, penentuan titik evakuasi, dan titik kumpul.
Ketua Forum Koordinasi Pengurangan Risiko Bencana (FK PRB API) Kabupaten Banjar yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya sosialisasi DESTANA di Desa Kiram.
“Ini langkah penting dalam membangun desa yang tangguh bencana. Partisipasi aktif warga menjadi fondasi utama keberhasilan DESTANA,” katanya.
Meski diakui terdapat penyesuaian anggaran akibat kebijakan TAPD legislatif, pelaksanaan kegiatan tetap berjalan optimal berkat dukungan penuh dari PT PLN Wilayah Kalselteng.
“Dengan keterbatasan anggaran, kami tetap optimis dan berupaya maksimal agar program berjalan efektif, termasuk dukungan untuk rekan-rekan media,” ungkap panitia pelaksana.
Melalui program DESTANA ini, Desa Kiram diharapkan mampu menjadi contoh desa yang siap, tangguh, dan mandiri dalam menghadapi ancaman bencana, sekaligus memperkuat budaya sadar risiko di tingkat komunitas.



