REDAKSI8.COM – Akbiat merabahnya penyebaran virus Corona atau Covid-19 di Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia mengeluarkan himbauan kepada masyarakat untuk tidak mengadakan kegiatan sosial kemasyarakatan yang menyebabkan berkumpulnya massa dalam jumlah banyak, baik di tempat umum maupun di lingkungan sendiri.
Imbauan itu tertuang dalam Maklumat Kapolri Jenderal Idham Azis Nomor: Mak/2/III/2020 bertanggal 19 Maret 2020 tentang Kepatuhan terhadap Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona.


Dibeberapa kota, memang masih ada kerumunan yang masih aktif, walaupun jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding sebelum pandemi covid-19 muncul.
Seperti di Kota Banjarbaru, kawasan kuliner malam yang biasa dipenuhi kaula muda apalagi di malam minggu, saat ini situasinya sudah menurun kurang lebih 80% dibandingkan sebelum datangnya virus corona.
Bagi pedagang setempat, Muhammad Kurdi, kondisi seperti ini memang dirasakan oleh para pedagang secara global. Dimana tidak hanya jualan miliknya saja, seluruh pedagang yang ada di lingkungan Murdjani sudah sepi pengunjung.
“Kami harus tetap buka. Kalau Tidak buka istri, anak, sewa rumah dan bayar listrik mau pakai apa? pakai uang kan,” tuturnya kepada Redaksi8.com, Sabtu malam (18/4).

Kurdi pun menambahkan, sebenarnya ia dan istrinya takut membuka dagangan ditengah wabah corona ini. Soalnya, setiap pengunjung yang datang tidak diketahui dari mana, ketemu siapa dan jejak rekam perjalanannya.
“Kami sudah dihimbau oleh pemerintah setempat untuk tetap memberi jarak tempat duduk antar pengunjung, menggunakan masker dan menyediakan tempat cuci tangan di setiap outlet,” jelasnya kepada pewarta.
“Kami berharap pandemi ini cepat selesai,” harap Kurdi.
Sementara itu, salah seorang pengunjung asal Loktabat Selatan, Abdullah mengaku, tidak takut dengan virus corona. Lantaran baginya, jika takut dengan virus tersebut sama saja menyekutukan Allah Subhana Wata’ala.
“Takut sama Allah jangan sama virus corona, syirik,” ujarnya.

Tanpa jarak dan hanya beberapa orang saja yang menggunakan masker, Abdullah menerangkan, alasan kenapa ia dan teman-temannya tetap nongkrong di Murdjani karena outletnya masih tetap dibuka.
“Saya sudah satu bulan di rumah saja, baru malam ini saya keluar lagi nongkrong sama teman-teman saya,” ungkapnya.
“Kami tidak akan nongkrong jika outlet outlet di sini ditutup. Kalau masih buka seperti saat ini berarti tidak dilarang dong nongkrong dan menikmati jajanan,” sambung Abdullah.
Ditengah investigasi, datang pula berbondong-bondong pengamen yang mengaku dari Kota Martapura. Belum menggunakan APD yang lengkap, mereka mengaku bosan di rumah saja.
Walaupun sudah di larang orang tua, So’om dan kawannya tetap memaksa ngamen dipinggir jalan.
“Sekarang kami cuma pengen rame-rame aja karena sudah bosan di rumah terus. Tapi selama ngamen, kami disuruh jaga jarak sama pengunjung di sini, selebihnya tidak apa-apa,” terang So’om.

Hingga saat ini, pasien yang terkonfirmasi positif covid-19 di Kota Banjarbaru sudah mencapai 12 orang.

Menghadapi kondisi seperti ini, apakah masyarakat setempat akan mengurangi aktivitas diluarnya atau malah tidak ada pengaruhnya?
Lantas, bagaimana dengan kebijakan yang sudah dicetuskan? apakah sudah sesuai atau belum?

