REDAKSI8.COM, BANJAR – Program budidaya ikan papuyu (betok) yang digagas Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) mulai menunjukkan hasil nyata. Panen yang berlangsung di Kecamatan Karang Intan menjadi bukti bahwa komoditas lokal ini memiliki prospek ekonomi menjanjikan sekaligus tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem.
Kegiatan panen ini diawali dengan forum komunikasi kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan), yang dirangkai dalam rapat koordinasi percepatan perizinan pemanfaatan air irigasi serta pembahasan keberlanjutan budidaya papuyu di Kabupaten Banjar..
Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, provinsi, akademisi, hingga para pelaku usaha budidaya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan.
Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Patarahan Tengah, Hambali, menjelaskan bahwa panen kali ini merupakan hasil dari penebaran sekitar 20 ribu bibit ikan papuyu yang dilakukan tujuh bulan lalu.
“Selama masa pemeliharaan, kami menghabiskan sekitar 120 sak pakan. Hasil panen diperkirakan mencapai 1,3 ton,” ujarnya.
Ia menambahkan, harga jual ikan papuyu cukup kompetitif dan dibedakan berdasarkan kualitas. Untuk grade A mencapai Rp100 ribu per kilogram, grade B Rp60 ribu, dan grade C sekitar Rp30 ribu per kilogram. Penjualan dilakukan langsung melalui broker setelah proses sortir.
Hambali juga menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah, baik dari provinsi maupun kabupaten, yang telah memberikan bantuan berupa bibit, pakan, hingga perlengkapan budidaya.
“Dengan dukungan ini, kami semakin optimistis mengembangkan usaha budidaya papuyu ke depan,” tambahnya.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, menyebut keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk pendampingan teknis dari balai perikanan dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan.
Ia memaparkan bahwa produksi ikan papuyu di Kabupaten Banjar mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Pada 2023 produksi masih nol. Tahun 2024 naik menjadi 7,11 ton, tahun 2025 mencapai lebih dari 11 ton. Sementara tahun 2026, hingga triwulan pertama sudah menyentuh 3,7 ton,” jelasnya.
Dengan tren tersebut, pihaknya optimistis target produksi tahun 2026 sebesar 11 ton akan terlampaui. Bahkan, hingga akhir tahun diprediksi bisa mencapai lebih dari 15 ton.
Menurut Bandi, ikan papuyu memiliki keunggulan yang menjadikannya komoditas strategis. Selain tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem seperti kemarau panjang atau fenomena El Nino, papuyu juga memiliki nilai jual yang relatif tinggi dan stabil di pasaran.
“Ini kombinasi yang sangat kuat, antara ketahanan lingkungan dan nilai ekonomi. Karena itu, papuyu sangat potensial dikembangkan secara luas,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan program, bukan hanya sebagai kegiatan seremonial semata.
“Budidaya ini harus dijalankan secara istiqomah, berkelanjutan. Kita ingin ini menjadi gerakan bersama yang mampu mengangkat ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Pengembangan budidaya papuyu di Kabupaten Banjar juga didukung oleh regulasi daerah, termasuk Peraturan Nomor 111 Tahun 2023 dan Peraturan Bupati Tahun 2024 yang mengatur pengembangan komoditas tersebut.
Melalui regulasi dan dukungan lintas sektor, pemerintah menargetkan terbentuknya “Kampung Papuyu” sebagai pusat budidaya yang produktif dan berkelanjutan.
“Harapannya, kampung-kampung budidaya ini tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat saat ini, tetapi juga menjadi warisan ekonomi bagi generasi mendatang, sekaligus menjaga kelestarian ikan papuyu sebagai ikon daerah,” tutup Bandi.
Dengan capaian panen perdana ini, Kecamatan Karang Intan menjadi contoh nyata bahwa sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat mampu mendorong sektor perikanan lokal menjadi salah satu pilar ekonomi daerah.


