REDAKSI8.COM, BANJAR – Upaya mendorong modernisasi pertanian dan percepatan masa tanam terus diperkuat oleh Dinas Pertanian Kabupaten Banjar. Melalui Bidang Sarana TPH, Perkebunan, dan Peternakan, Distan Banjar menggelar pelatihan operator alat dan mesin pertanian (alsintan) di Aula Distan, Kamis (19/2/2026).
Pelatihan ini tidak sekadar menjadi ajang transfer pengetahuan teknis, tetapi juga dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam mencetak sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap teknologi. Tujuannya jelas: memastikan bantuan alsintan dari pemerintah benar-benar menjadi motor penggerak peningkatan produktivitas pertanian yang dikelola secara profesional, efisien, dan berkelanjutan.
Fokus utama pelatihan diarahkan pada pengoperasian alat panen padi modern, yakni combine harvester berukuran besar. Para peserta mendapatkan pembekalan langsung dari narasumber profesional dari PT Corin Mulia Gemilang, produsen alsintan merek Maxxi, yang menjelaskan secara rinci teknik pengoperasian, perawatan, hingga langkah-langkah keselamatan kerja di lapangan.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Bidang Sarana TPH dan Perkebunan Nurul Chatimah, Kepala Seksi Pengembangan Sarana Pertanian Gusti Rahmatullah beserta jajaran staf, serta 52 operator Brigade Pangan yang berasal dari lima kecamatan se-Kabupaten Banjar. Antusiasme peserta terlihat tinggi, mengingat alat panen modern kini menjadi kunci utama efisiensi usaha tani.
Dalam sambutannya, Nurul Chatimah menjelaskan bahwa penyaluran berbagai jenis alsintan, termasuk combine harvester, merupakan bagian dari program strategis Kementerian Pertanian dalam mengoptimalkan lahan pertanian produktif di daerah. Dengan dukungan teknologi, petani diharapkan mampu menekan kehilangan hasil panen sekaligus mempercepat proses olah lahan dan tanam berikutnya.
Namun demikian, Nurul menegaskan bahwa pemanfaatan alsintan harus disertai dengan tanggung jawab bersama. Pihaknya akan memperketat pengawasan melalui monitoring dan evaluasi (monev) secara berkala terhadap gudang-gudang penyimpanan alsintan di lapangan.
“Kami mewajibkan laporan rutin setiap enam bulan untuk memantau kondisi dan status operasional alat. Ini penting agar bantuan yang diberikan benar-benar dimanfaatkan dan tidak terbengkalai,” tegasnya.
Ia juga menaruh harapan besar agar para operator dan petani dapat menguasai pengoperasian combine secara mahir sehingga efisiensi panen dapat tercapai secara maksimal. Alsintan yang disediakan, lanjut Nurul, merupakan aset bersama untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan dilarang keras untuk dipindahtangankan kepada pihak lain.
Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kabupaten Banjar optimistis transformasi pertanian berbasis teknologi dapat berjalan lebih cepat. Dengan operator yang terampil dan pengelolaan alsintan yang tertib, sektor pertanian diharapkan semakin maju, produktif, dan mampu menjawab tantangan ketahanan pangan ke depan.



