REDAKSI8.COM, BANDUNG – Sebuah ancaman besar bagi peredaran obat keras ilegal nasional berhasil diredam aparat kepolisian setelah terbongkarnya fasilitas produksi raksasa di kawasan Pergudangan Bizpark, Kopo, Kota Bandung.

Tak tanggung-tanggung, pabrik sekaligus gudang terselubung itu disinyalir memiliki kapasitas produksi fantastis hingga 8 juta butir obat keras jenis Tramadol dan Heximer setiap harinya.

Pengungkapan jaringan manufaktur gelap tersebut berpotensi menggagalkan pasokan jutaan butir obat berbahaya yang membidik pasar antarkota, termasuk wilayah DKI Jakarta.

Terbongkarnya industri gelap obat keras skala masif itu diawali dari aksi pencegatan mendadak di jalur bebas hambatan.

Tim Kepolisian Daerah Jawa Barat menghentikan laju seorang kurir yang membawa ratusan ribu butir obat siap edar di Rest Area KM 125 Tol Purbaleunyi, Bandung, pada Jumat sore pertengahan Oktober 2026.

Penangkapan itu menjadi pintu masuk penting untuk membongkar muara produksi yang bersembunyi rapi di dalam kompleks pergudangan.

“Awal mulanya mengamankan satu orang tersangka pada hari Jumat di kilometer 125 Purbaleunyi dengan barang bukti 600 ribu butir Hexymer siap edar. Barang bukti tersebut hendak dibawa menuju Jakarta,” ujar Kapolda Jawa Barat Irjen Pol. Hengki di Bandung, Minggu (18/10/2026).

Penyelidikan bergerak cepat pascapenangkapan di jalan tol tersebut.

Hanya dalam hitungan jam, pada Sabtu hingga Minggu (17-18/10), petugas melakukan penggerebekan beruntun terhadap tiga lokasi yang saling berdekatan di kawasan Bizpark Kopo.

Dari pengembangan di lapangan, petugas mencokok empat tersangka tambahan sehingga total lima orang anggota jaringan berhasil diringkus.

Jaringan ini menjalankan usahanya secara terstruktur dengan pembagian kerja yang rapi. Hengki menjelaskan, setiap tersangka diduga memiliki peran berbeda dalam menjalankan aktivitas ilegal tersebut. Peran mereka meliputi pembeli, peracik, pengantar, hingga koordinator pengiriman obat berdasarkan pesanan.

“Kami masih mendalami keterlibatan masing-masing tersangka dalam jaringan produksi dan distribusi obat keras ilegal tersebut,” katanya.

Skala operasi pabrik tersembunyi ini kian terlihat dari akumulasi barang bukti yang disita di lokasi penyergapan. Polisi mengamankan puluhan drum berisi bahan baku obat berbobot total berton-ton, sederet mesin cetak berkapasitas tinggi, pemanas, puluhan unit telepon seluler, hingga laptop dan buku rekening yang merekam jejak alur transaksi keuangan.

Dari persediaan bahan baku yang ada, pabrik tersebut diperkirakan sanggup memproduksi hingga 256 juta butir Hexymer dan Tramadol.

Daya jangkau pemasaran pabrik ini tergolong luas dan tidak terbatas di Jawa Barat semata, melainkan menjadikan ibu kota sebagai salah satu target pasar utamanya.

“Kalau melihat alat-alat yang ada, pabrik ini bisa mencetak sampai 8 juta butir per hari. Distribusinya tidak hanya di wilayah Jawa Barat saja, tetapi juga mengincar pasar luar daerah seperti Jakarta,” katanya.

Saat ini Polda Jawa Barat terus melakukan pendalaman intensif untuk mengurai mata rantai jaringan produksi hingga pemasarannya secara menyeluruh, termasuk memetakan peran mendalam tiap tersangka demi memastikan tidak ada simpul distribusi lain yang lolos dari jerat hukum.