REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Terminal Catur Minggu Raya (MGR) Banjarbaru dan sebuah warung kopi sederhana di Jalan Kasturi Kelurahan Loktabat Utara menjadi tempat berkumpul masyarakat untuk bercengkrama.
Asap kopi mengepul, tawa bercampur bisik-bisik strategi terdengar bersahutan, sementara tangan-tangan cekatan bergerak memindah pion-pion kecil, kuda, dan menteri.

Bukan sekedar bermain, warung kecil dengan meja panjang dari kayu itu menyimpan semangat yang lebih dalam, yaitu menghidupkan kembali catur sebagai ruang berfikir, latihan hidup, dan warisan yang tak boleh lenyap.
Pun, nampak pria paruh baya yang khusyuk menatap papan catur, dengan gelas kopi hitam tersaji di meja bersama kaleng Khong Guan yang kini lebih sering difungsikan sebagai wadah serbaguna.
“Kami biasa kumpul disini. Main catur, kadang main domino juga sambil ngopi, kadang juga saling ngobrol lain-lain, hal yang sedang hangat jadi topik pembahasan,” ujar salah satu pemain catur di Terminal MGR Banjarbaru, Sugianor (65), Sabtu (16/8/25).
Tak ada batasan usia, bahkan sekat status atau profesi, hanya suasana begitu akrab yang terbalut dalam permainan catur jadi tradisi tidak tertulis.
Ada yang menjadi pemain, ada pula yang setia jadi komentator dadakan dalam permainan, sehingga memecah suasana dengan candaan-candaan ringan.
Sebab, bukan hadiah atau piala yang diperebutkan, melainkan kehangatan silaturahmi yang terus terjaga antar warga.
“Biasanya rame itu dari pukul 10 pagi hingga menjelang magrib, suasana akrab terus bergulir. Terkadang pertarungan sengit terjadi, terkadang hanya senda gurau menemani permainan santai,” jelasnya.
Diketahui Terminal Catur MGR Banjarbaru sudah berdiri sejak lama, bisa dibilang hampir selaras usia Kota Banjarbaru.
Menariknya, siapa saja yang ingin bergabung sekadar numpang istirahat ataupun ingin bermain catur, semuanya terbuka untuk umum, selama ada kemauan duduk dan berfikir.
Menurutnya, bagi warga pecinta catur menjadi terapi sosial, pengusir sepi, sekaligus tempat menjaga kesehatan mental mereka.
Adanya yang bermain serius, ada juga yang hanya ingin bercerita tentang masa lalu, atau berbagi keluhan tentang kehidupan.
“Disini, kami masih merasa berguna. Masih bisa berpikir, bisa tertawa, tidak hanya menunggu waktu di rumah. Ya menikmati hidup,” tandasnya.



