REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Musim pancaroba atau musim peralihan seperti sekarang dianulir dapat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat, khususnya bagi mereka yang kondisi tubuhnya kurang fit.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), Kota Banjarbaru, Dr. Juhai Triyanti Agustina mengingatkan, ketika masuk musim peralihan, masyarakat mesti berhati-hati dengan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
“Yang perlu kita waspadai terkait perubahan cuaca, yang jelas karena musim hujan lagi pasti nyamuknya berkembang biak lagi (DBD),” ujarnya Selasa (24/10/23).
Ia meminta kepada masyarakat Banjarbaru, gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, yaitu menguras penampungan air dan mengubur barang bekas dilaksanakan.
Pun, menjalankan Gerakan Serentak Sapu dan Punahkan Jentik Nyamuk DBD (Gertak Bapuputik).
Sebab, kasus DBD tidak hanya lantaran faktor cuaca, tetapi keterikatan dengan kesadaran masyarakat masing-masing untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.
“Jadi gertak bapuputiknya tetap dijalankan, perilaku hidup bersih sehatnya juga, kemudian penyakit diare dan ISPA tetap diwaspadai,” imbaunya.
Sebelumnya, menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Selatan (Kalsel) awal musim hujan akan bermula pada awal bulan November, diprakirakan sekitar tanggal 1 hingga 10 November.
Dimulai dari sebelah barat Kalsel (barat pengunungan Meratus) dan disusul daerah lainnya.
Sifat hujan dari prakiraan masih normal, tapi mundur dari pada normalnya. Sebab, adanya kejadian pemanasan suhu muka laut di Samudera Pasifik Timur dan Tengah (El Nino) yang menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.
El Nino moderat diprakirakan akan berlangsung hingga Februari 2024, ditambah dengan kejadian IOD (Index Ocean Dipole) positif di Samudera Hindia yang berlangsung sampai akhir 2023.
“Sehingga curah hujan di Indonesia khususnya Kalimantan Selatan berkurang dari pada normalnya,” ucap Forecaster Iklim BMKG Kalsel, Khairullah.
Dalam beberapa hari terakhir diakuinya sudah terjadi hujan alami, namun sekarang belum memasuki musim penghujan, hanya musim peralihan (pancaroba).
Soalnya Ia menambahkan, angin monsun masih mendominasi dari Timuran (Monsun Australia), angin Baratan (monsun Asia) diprakirakan mulai memasuki Indonesia di bulan November akan datang.
Jika hujan TMC biasanya tidak lebat, maka berbeda dengan hujan yang berlangsung ketika musim peralihan sifat hujannya lebat, dan berlangsung pada durasi singkat.
Hal itu disebabkan, adanya awan Cumulonimbus (Cb) yang berpotensi menyebabkan angin kencang dan petir.
“Adanya perbedaan suhu dan tekanan drastis saat musim peralihan ini sehingga memicu kejadian tersebut,” teorinya.
Dengan itu, Ia mengimbau masyarakat untuk waspada jika terjadi cuaca ekstrem.
Antisipasinya dengan cara, ketika terjadi hujan lebat dan angin kencang masyarakat bisa memotong pohon-pohon tua supaya tidak membahayakan pengguna jalan maupun warga sekitarnya.
Kemudian tetap menjaga kesehatan karena perbedaan cuaca yang drastis dapat menyebabkan kondisi kesehatan bisa berakibat sakit.
Pun, terus memantau informasi yang valid tentang cuaca atau iklim, misalnya dari BMKG dan BPBD setempat.
“Kami memgimbau kepada masyarakat tetap waspada dengan cuaca ekstrem, jaga kesehatan tubuh karena ini musim peralihan,” pungkasnya.



