REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiasi gerakan pemilahan sampah yang dicanangkan oleh Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Menteri anif menegaskan, pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan merupakan langkah krusial untuk membentuk budaya peduli lingkungan di kalangan intelektual muda.

Gerakan dengan tagline Sampah Kampus Selesai di Kampus (SKSD) yang diinisiasi oleh Rektor ULM itu dinilai sejalan dengan agenda nasional Kementerian Lingkungan Hidup dalam menangani persoalan sampah di tanah air.
Hanif menekankan kampus memiliki peran strategis sebagai ekosistem yang menggodok calon pemimpin masa depan untuk menumbuhkan budaya ramah lingkungan.
“Pilah sampah merupakan program kerja nasional Kementerian Lingkungan Hidup. Karena demikian pentingnya, maka ini harus diinisiasi oleh semua pihak, tidak terkecuali kampus sebagai pusat sivitas akademika,” kata Menteri Hanif.
Diharapkan, kebiasaan positif yang terbangun di dalam kampus tersebut dapat memberikan dampak luas hingga ke lingkungan masyarakat luar.
Menteri LH meyakini, dengan dukungan instrumen keputusan Rektor, ULM mampu menjadi salah satu pionir penanganan lingkungan hidup di Indonesia.
Lebih lanjut, Hanif menganalogikan penanganan sampah sebagai sebuah kerja maraton yang membutuhkan napas panjang, bukan sekadar kerja sprinter yang bersifat sesaat.
Sehingga, diperlukan inovasi berkelanjutan serta dukungan teknologi yang terus dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan zaman.
“Saya yakin Pak Rektor akan memperkuatnya melalui berbagai instrumen keputusan Rektor untuk menjadikan kampus ini benar-benar salah satu pionir kampus di tanah air dalam penanganan lingkungan hidup, khususnya sampah,” tuntasnya.
Selanjutnya rektor ULM, Prof. Dr. Ahmad Alim Bachri menambahkan, pihak universitas akan terus mengupayakan berbagai inovasi dan penyediaan fasilitas penunjang yang memadai.
Hal ini dilakukan guna memastikan proses pengelolaan sampah dari hulu ke hilir dapat berjalan optimal di dalam lingkungan universitas.
“Universitas Lambung Mangkurat berkomitmen penuh untuk mewujudkan ekosistem kampus yang bersih melalui gerakan ‘Sampah Kampus Selesai di Kampus,” tukasnya.
“Kami akan terus mengupayakan inovasi dan penyediaan fasilitas yang memadai agar budaya memilah sampah ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan seluruh sivitas akademika ULM,” pungkasnya.
Sampah Plastik Residu Bisa Dibikin ULM Jadi Apa Saja? Yuk Intip Lebih Dalam!
Persoalan sampah plastik yang selama ini menjadi ancaman serius bagi lingkungan kini mulai menemukan solusi kreatif melalui sentuhan inovasi teknologi daur ulang oleh Kampus Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Berbagai jenis plastik residu yang biasanya berakhir di tempat pembuangan akhir, kini berhasil disulap menjadi aneka furnitur dan perlengkapan publik yang kokoh serta memiliki nilai ekonomi tinggi.
Langkah tersebut tidak hanya membantu mengurangi beban polusi lingkungan, tetapi juga membuktikan limbah anorganik dapat diolah menjadi barang yang fungsional dan estetis.
Salah satu terobosan yang menarik perhatian publik yakni pemanfaatan plastik residu dalam jumlah besar untuk memproduksi set kursi taman dan fasilitas sanitasi.
Sebagai gambaran, satu unit set kursi taman berukuran 150 cm mampu menyerap hingga 250 kilogram residu plastik.
Angka yang lebih fantastis terlihat pada pembuatan toilet portabel, di mana satu unitnya sanggup menghabiskan 350 kilogram sampah plastik.
Hal ini menunjukkan potensi besar dalam menekan angka penumpukan sampah plastik di perkotaan melalui produksi massal barang-barang infrastruktur.
Tidak hanya terbatas pada fasilitas publik, inovasi merambah ke sektor industri dan pertanian melalui pembuatan palet forklift serta alat komposter aerob.
Palet yang dihasilkan dari material daur ulang ini memiliki ketahanan yang mumpuni untuk kapasitas hingga 2 ton, dengan harga yang cukup kompetitif di pasar.
Sementara itu, komposter plastik daur ulang hadir sebagai solusi ganda, di mana wadahnya berasal dari sampah plastik dan fungsinya digunakan untuk mengolah sampah organik, menciptakan sebuah siklus pengelolaan limbah yang berkelanjutan.
Munculnya produk-produk seperti kursi stool, set meja warung, hingga bak komposter besar itu diharapkan dapat mengubah paradigma masyarakat terhadap sampah plastik.
Dengan kualitas material yang tahan cuaca dan tidak mudah keropos dibandingkan kayu konvensional, produk dari sampah plastik ini diprediksi akan menjadi tren baru dalam industri furnitur hijau.
Keberhasilan mengubah ratusan kilogram limbah menjadi satu unit barang berguna ini menjadi bukti nyata bahwa dengan kreativitas dan teknologi, masalah sampah plastik dapat diubah menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ULM, Prof. Sunardi, S.Si., M.Sc., Ph.D., mengungkapkan, langkah sekarang merupakan bagian dari visi besar ULM untuk memastikan pengelolaan sampah tuntas di dalam lingkungan kampus.
“Harapannya tidak ada sampah dari internal kampus yang keluar. Selain pemilahan dan pengolahan sampah organik menjadi kompos, kami juga fokus mengonversi sampah plastik low value atau residu yang tidak memiliki nilai ekonomi,” ujarnya kepada sejumlah awak media, Senin (6/4/2026).



