REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia (RI), Andi Amran Sulaiman mengajak para penyuluh dan insan pertanian di Kalimantan Selatan (Kalsel) mewujudkan kembali swasembada pangan khususnya padi dan jagung.
Menurutnya, penyuluh dan petani milenial mesti bergerak cepat, serta bekerja keras menekan impor supaya tidak terjadi krisis pangan yang sangat berbahaya bagi bangsa maupun negara.
Amran menargetkan, Kalsel menjadi tulang punggung atau penopang stok pangan Indonesia, khususnya Ibu Kota Negara (IKN) nanti.
Sebab, Kalsel memiliki potensi lahan rawa 200 ribu hektare yang dapat menghasilkan satu juta ton beras.
“Disini ada potensi besar 200 ribu hektare yang tanam nya hanya 1 kali 1 tahun. Akan kita tingkatkan menjadi dua kali, kita support dari pusat untuk membangun irigasi, bendungan, tata air, dan tata kelola airnya,” ujar Amran ketika di acara Pembinaan Penyuluh Pertanian Wilayah Kalsel dalam Peningkatan Produksi Padi dan Jagung di Gedung Auditorium Idham Chalid, Kamis (16/11/23).
Dengan begitu menurutnya, produksi pangan bisa meningkat dua kali lipat, dan produksi 1 juta bisa menyumbang 1 juta ton beras.
Apabila Kalsel bisa menekan impor dengan 1 juta ton dari 3,5 juta ton, dan Sumatra Selatan siap menekan 1 juta ton lebih, maka Kalsel mampu menyelesaikan 60 persen masalah nasional.
“Masalah pertama adalah biaya operasionalnya, kami baru masuk langsung menaikan biaya operasional Rp200 ribu per bulan, yang dulunya 400 ya jadi naik 30%,” katanya.
Selain itu, Kalimantan sudah mendistribusikan pupuk dengan baik. Namun jika ada petani yang kesulitan untuk mendapatkan pupuk bisa menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Sedangkan alat mesin pertanian, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) nantinya akan diturunkan untuk bantuan alat mesin pertanian di Kalsel.
“Permintaan kami gunakan KTP sudah bisa ngambil pupuk,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman menyampaikan, Sumatra Selatan memiliki potensi yang sangat besar, sehingga untuk percepatan realisasi peningkatan produksi padi ditargetkan sebanyak 500 ribu hektare.
Sedangkan, untuk Kalimantan Selatan sendiri diminta oleh Menteri Pertanian RI sebanyak 200 ribu hektare.
“Kita akan meeting kembali untuk Kabupaten/Kota nanti malam dengan kepala dinas masing-masing, besok akan di sepakati bersama dengan Bupati, Walikota se-Kalimantan Selatan,” ungkapnya.
Syamsir menjelaskan, bahwa Kalsel sudah mengalami surplus diangka sementara 850 ribu ton dalam setahun untuk memenuhi pangan 4,3 juta masyarakat hanya dengan 600 ribu ton. Selebihnya diminta oleh Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
“Secara keseluruhan di pulau Kalimantan hanya Kalimantan Selatan yang surplus, sedangkan Kalteng, Kaltim, Kalbar, dan Katara mereka minus,” jelasnya.
Untuk percepatan kerja petani, Syamsir meminta alat-alat mesin pertanian hantraktor, traktor roda empat, dan eksavator agar percepatan pompanisasi, serta saluran-saluran kembali seperti semula.
“Tahun 2021 kemarin terkena banjir, jadi lahan kita sekarang banyak yang tertutup saluran-salurannya, itu nanti akan dibuka kembali, untuk juknis, juklat dan lain-lain, akan menindaklanjuti dalam seminggu ke depan bersama dengan Kementerian Pertanian,” tuturnya.
Tidak hanya itu, Ia juga meminta kepada Menteri Pertanian agar Biaya Operasional Penyuluh (BOP) di Kalimantan Selatan bisa naik.
Namun, Menteri Pertanian tidak hanya menambah BOP di Kalsel saja, tetapi di seluruh Indonesia ditambah menjadi 200 ribu.
“Jadi penyuluh swasembada itu mendapatkan 10 bulan dalam setahun, 2 bulannya pun masih kita mintakan kepada kementerian untuk bisa membantu nantinya,” pungkasnya.



