REDAKSI8.COM – Dunia maritim telah memperkenalkan budaya Austronesia hampir ke seluruh wilayah kepulauan Asia – Pasifik, termasuk juga Indonesia, terutama pada unsur-unsur bahasa (Jawi dan Sansekerta) yang hampir bersamaan waktunya dengan perdagangan tekstil.
Dari proses difusi budaya 4.000 tahun yang lalu itu, terutama pada unsur kain yang dapat dikenali melalui motif-motif kuno yang terdapat pada tenun dan songket.
Inilah selayang pandang yang dikutip dari Buklet Pameran Wastra Borneo (Pameran Bersama Museum-Museum se-Borneo), warisan budaya, identitas dan kekuatan ekonomi.

Pameran museum se-Borneo yang diselenggarakan dari tanggal 24 April sampai 26 April 2018 ini, diikuti oleh Museum Serawak Malaysia, Museum Sabah Malaysia, Museum Nagara Brunei Darussalam, Museum ”Belanga” Provinsi Kalimantan Tengah, Museum Kalimantan Barat, Museum ”Mulawarman” Provinsi Kalimantan Timur, Museum Kapuas Raya Kalimantan Barat, dan tentu saja Museum Lambung Mangkurat Provinsi Kalimantan Selatan selaku tuan rumah penyelenggara.

Tidak hanya itu, Museum Rangga Warsita Provinsi Jawa Tengah dan Museum Batik Pekalongan Provinsi Jawa Tengah, didapuk sebagai peserta kehormatan.
Berbagai macam koleksi dipamerkan dalam Wastra Borneo ini, dari Sarung Jong Sarat (Muzium Brunei Darussalam), Tanjak (Muzium Sabah), Kain Sirat (Muzium Serawak), Pakaian Penganten Melayu Sintang (Museum Kapuas Raya), Sarung/lungi (Museum Kalimantan Barat), Ulap Doyo (Museum Provinsi Kalimantan Timur).
Selain itu, ada juga kain khas masyarakat Banjar, yaitu Kain Sasirangan (Museum Kalimantan Selatan).
Kemudian, ada Kain Panjang Jlamprang (Museum Batik Pekalongan Jawa Tengah) hingga Kain Panjang Sida Asih (Museum Rangga Warsita Provinsi Jawa Tengah).



