REDAKSI8.COM, PALANGKARAYA – Fenomena langit berwarna oranye kemerahan yang melimputi sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering kali memicu kepanikan warga.
Berbeda dengan wilayah tetangganya seperti Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat yang umumnya diselimuti kabut asap berwarna abu-abu atau putih kecokelatan, perubahan warna ekstrem di langit Kalteng murni merupakan fenomena optik atmosfer dan sains aerosol.

Secara ilmiah, perbedaan visual tersebut dijelaskan melalui prinsip fisika yang dikenal sebagai Mie Scattering atau Hamburan Mie.
Dalam kondisi atmosfer normal, molekul gas membiaskan cahaya matahari gelombang pendek seperti biru dan ungu sehingga langit tampak biru.
Namun, saat kebakaran lahan gambut hebat terjadi, atmosfer dipenuhi mikro partikel aerosol PM2,5 dan PM10 dalam konsentrasi yang sangat pekat.
Partikel-partikel tersebut bertindak sebagai filter optik raksasa yang menyerap serta menghamburkan spektrum warna gelombang pendek ke luar jalur pandang, sehingga hanya gelombang cahaya terpanjang seperti merah dan oranye yang mampu menembus ketebalan asap hingga sampai ke mata manusia di permukaan bumi.
Karakteristik kebakaran di Kalimantan Tengah menjadi faktor utama pembeda.
Wilayah Kalteng didominasi hamparan lahan gambut dalam yang mengalami pembakaran tak sempurna di bawah permukaan atau smoldering.
Pembakaran tipe ini menghasilkan karbon cokelat dan tar balls berlimpah yang memiliki daya serap radiasi sangat kuat terhadap warna biru.
Di sisi lain, fenomena di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat umumnya didominasi oleh emisi pembakaran vegetasi permukaan serta asap dispersi yang terbawa angin.
Tingginya kandungan abu melayang dan uap air di wilayah tersebut memantulkan seluruh spektrum cahaya secara merata, sehingga menghasilkan warna kabut asap abu-abu.
Tingkat ketebalan optik aerosol di wilayah sumber kebakaran gambut pekat seperti Kalteng tercatat berada pada level ekstrem.
Berdasarkan studi literatur internasional mengenai emisi pembakaran biomassa Indonesia, nilai AOD yang melonjak tinggi memicu penyerapan total pada spektrum cahaya tampak tertentu.
Para ahli dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi, warna oranye kemerahan itu bukanlah pancaran radiasi panas api langsung dari permukaan tanah, melainkan murni pembiasan cahaya akibat tingginya kerapatan partikulat di udara.
Jangan sampai, warna orange saat kabut asap di Kalteng berubah menjadi merah pekat.
Sebab, kabut asap berwarna merah pekat menunjukkan kondisi ekstrem.
Kerapatan partikulat di atmosfer sudah sangat padat sehingga hampir seluruh spektrum cahaya tampak tersaring total, dan hanya gelombang merah paling panjang yang tersisa.
Ini mengindikasikan paparan racun dan polutan di udara berada pada puncaknya.
Berdasarkan kriteria pengukuran kualitas udara resmi baik BMKG maupun standar internasional/ EPA, kategori kabut asap berwarna oranye menunjukan kualitas udara sangat tidak sehat.
Konsentrasi polutan tinggi, dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar dan sangat berisiko bagi kelompok rentan (lansia, anak-anak, penderita asma).
Sementara warna merah pekat sudah di kategori berbahaya.
Konsentrasi polutan mencapai tingkat berbahaya secara menyeluruh.
Kualitas udara pada level ini dapat memicu penurunan fungsi paru-paru, iritasi berat, serta dampak kesehatan serius bagi seluruh populasi tanpa terkecuali, bahkan walau hanya beraktivitas singkat di luar ruangan.








