Dalam sejumlah unggahan yang beredar, tampak material batu dan tanah runtuh menutup sebagian badan tebing yang biasa menjadi area pengambilan batu oleh para penambang. Beredarnya video tersebut memicu berbagai spekulasi publik, salah satunya dugaan bahwa beberapa alat berat dan truk pengangkut batu ikut tertimbun dalam kejadian itu.
Namun, dugaan tersebut dibantah secara langsung oleh warga Desa Awang Bangkal. Salah seorang warga yang mengetahui aktivitas penambangan di lokasi tersebut menjelaskan bahwa longsor memang terjadi cukup cepat, namun tidak sampai menimbulkan kerusakan pada peralatan kerja maupun korban.
“Lungsur itu terjadi sore Senin. Kejadiannya cepat tapi tidak ada yang tertimbun. Informasi tentang alat berat atau truk yang tertimbun itu tidak benar,” ungkap Muhammad warga Awang Bangkal tersebut saat dimintai keterangan.
Menurutnya, aktivitas alat berat saat kejadian sedang berada di sisi yang berbeda dari titik longsor. Hal inilah yang membuat peralatan tidak terdampak.
Ia juga menambahkan bahwa pergeseran material tebing yang ambruk justru membuat penambang lebih mudah mengambil batu di lokasi tersebut. “Karena longsor itu, bagian yang tadinya keras atau tinggi jadi terbuka. Penambang malah tidak terlalu susah lagi memotong gunung di titik itu,” jelasnya.
Meskipun demikian, warga menyadari bahwa kejadian longsor ini tetap menjadi tanda alam yang perlu diwaspadai. Ia berharap pihak perusahaan penambangan maupun pengelola kegiatan dapat lebih memperhatikan pola kerja, struktur lereng, serta kondisi tanah dan batuan di sekitar lokasi agar kejadian serupa tidak memberi dampak buruk di kemudian hari.
“Keselamatan pekerja harus tetap jadi yang utama. Jangan karena sudah biasa, terus dianggap aman-aman saja,” ujarnya.



