REDAKSI8.COM, BANJAR – Lomba ikan hias cupang tidak sekadar menjadi ajang pamer keindahan warna dan bentuk, tetapi juga wadah berbagi pengetahuan tentang teknik budidaya ikan cupang yang berkualitas. Hal ini terungkap dalam pelaksanaan lomba ikan hias cupang yang digelar oleh komunitas pecinta ikan hias, yang diikuti para peternak dan penghobi dari berbagai daerah.
Karim, Panitia Lomba Ikan Hias Cupang yang digelar oleh Dinas Ketahan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banjar menuturkan bahwa keterlibatannya dalam dunia cupang berawal dari hobi dan kecintaan terhadap ikan hias. Menurutnya, ikan cupang memiliki daya tarik tersendiri meskipun ukurannya relatif kecil.
“Berawal dari hobi, mungkin karena kecintaan kita pada ikan-ikan hias, salah satunya cupang. Ikan ini lebih menantang, dengan ukuran kecil tapi punya berbagai jenis dan warna yang menarik,” ujar Karim.
Ia menjelaskan, bagi peternak sekaligus penghobi, tingkat kesulitan dalam membudidayakan cupang justru menjadi daya tarik utama. Proses pemilihan ikan yang berkualitas hingga layak dilombakan memerlukan ketelitian dan pengalaman.
“Kita ini sebagian besar peternak. Tantangannya dimulai dari pemilihan indukan yang bagus, kemudian pemilihan bibit setelah penetasan, sampai ke perawatan harian,” jelasnya.
Karim mengungkapkan, salah satu faktor terpenting dalam budidaya ikan cupang adalah pemberian pakan. Untuk menghasilkan kualitas ikan yang unggul, pakan hidup menjadi pilihan utama, meskipun lebih sulit diperoleh.
“Pakan ini agak susah, karena kita menggunakan pakan hidup supaya hasilnya maksimal dan kualitas ikannya bagus, baik warna maupun bentuk sirip,” tambahnya.
Dari sisi pengalaman, komunitas pecinta cupang yang menaungi Karim telah aktif mengikuti lomba selama kurang lebih 10 tahun. Jika di wilayah sendiri lomba rutin digelar setahun sekali, berbeda halnya ketika mengikuti ajang di luar daerah.
“Kalau lomba di daerah lain itu sudah sering, bisa 15 sampai 20 kali ikut lomba,” ujarnya.
Berbagai prestasi pun telah diraih. Karim menyebut komunitasnya pernah meraih juara Single Factor hingga juara umum grup, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
“Alhamdulillah, sudah pernah juara di berbagai kategori, dari kabupaten sampai provinsi,” ungkapnya dengan bangga.
Terkait jenis ikan yang dilombakan, ia menyebut cupang memiliki banyak variasi, baik dari segi corak, warna, maupun bentuk sirip. Namun, sifat alami cupang yang agresif membuat perawatannya perlu perhatian khusus.
“Ikan cupang ini ketika sudah menjaga wilayah dan umur sekian, sifatnya agresif. Setelah proses pemijahan, indukan juga bisa memakan kembali anaknya, jadi itu harus benar-benar diperhatikan,” jelas Karim.
Untuk menjaga kualitas, para peternak terus mencari dan mengembangkan bibit-bibit baru agar tidak stagnan dan mampu bersaing di berbagai ajang lomba.
Melalui lomba ini, diharapkan minat masyarakat terhadap ikan hias cupang semakin meningkat, tidak hanya sebagai hobi, tetapi juga sebagai peluang usaha yang menjanjikan, sekaligus mendorong lahirnya peternak-peternak ikan cupang berprestasi dari daerah.
Karim, Panitia Lomba Ikan Hias Cupang yang digelar oleh Dinas Ketahan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banjar menuturkan bahwa keterlibatannya dalam dunia cupang berawal dari hobi dan kecintaan terhadap ikan hias. Menurutnya, ikan cupang memiliki daya tarik tersendiri meskipun ukurannya relatif kecil.
“Berawal dari hobi, mungkin karena kecintaan kita pada ikan-ikan hias, salah satunya cupang. Ikan ini lebih menantang, dengan ukuran kecil tapi punya berbagai jenis dan warna yang menarik,” ujar Karim.
Ia menjelaskan, bagi peternak sekaligus penghobi, tingkat kesulitan dalam membudidayakan cupang justru menjadi daya tarik utama. Proses pemilihan ikan yang berkualitas hingga layak dilombakan memerlukan ketelitian dan pengalaman.
“Kita ini sebagian besar peternak. Tantangannya dimulai dari pemilihan indukan yang bagus, kemudian pemilihan bibit setelah penetasan, sampai ke perawatan harian,” jelasnya.
Karim mengungkapkan, salah satu faktor terpenting dalam budidaya ikan cupang adalah pemberian pakan. Untuk menghasilkan kualitas ikan yang unggul, pakan hidup menjadi pilihan utama, meskipun lebih sulit diperoleh.
“Pakan ini agak susah, karena kita menggunakan pakan hidup supaya hasilnya maksimal dan kualitas ikannya bagus, baik warna maupun bentuk sirip,” tambahnya.
Dari sisi pengalaman, komunitas pecinta cupang yang menaungi Karim telah aktif mengikuti lomba selama kurang lebih 10 tahun. Jika di wilayah sendiri lomba rutin digelar setahun sekali, berbeda halnya ketika mengikuti ajang di luar daerah.
“Kalau lomba di daerah lain itu sudah sering, bisa 15 sampai 20 kali ikut lomba,” ujarnya.
Berbagai prestasi pun telah diraih. Karim menyebut komunitasnya pernah meraih juara Single Factor hingga juara umum grup, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
“Alhamdulillah, sudah pernah juara di berbagai kategori, dari kabupaten sampai provinsi,” ungkapnya dengan bangga.
Terkait jenis ikan yang dilombakan, ia menyebut cupang memiliki banyak variasi, baik dari segi corak, warna, maupun bentuk sirip. Namun, sifat alami cupang yang agresif membuat perawatannya perlu perhatian khusus.
“Ikan cupang ini ketika sudah menjaga wilayah dan umur sekian, sifatnya agresif. Setelah proses pemijahan, indukan juga bisa memakan kembali anaknya, jadi itu harus benar-benar diperhatikan,” jelas Karim.
Untuk menjaga kualitas, para peternak terus mencari dan mengembangkan bibit-bibit baru agar tidak stagnan dan mampu bersaing di berbagai ajang lomba.
Melalui lomba ini, diharapkan minat masyarakat terhadap ikan hias cupang semakin meningkat, tidak hanya sebagai hobi, tetapi juga sebagai peluang usaha yang menjanjikan, sekaligus mendorong lahirnya peternak-peternak ikan cupang berprestasi dari daerah.



