REDAKSI8.COM, BANJAR – Transformasi lembaga pemasyarakatan sebagai ruang pembinaan sumber daya manusia kembali ditegaskan Pemerintah Kabupaten Banjar. Said Idrus Al Habsyi menyampaikan apresiasi tinggi kepada jajaran Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan dan Universitas PGRI Kalimantan atas kolaborasi strategis dalam menghadirkan Program Perkuliahan Strata 1 (S1) bagi warga binaan.
Apresiasi tersebut disampaikan saat peluncuran resmi program S1 di Lapas Narkotika Karang Intan yang berlokasi di Desa Awang Bangkal Barat, Kecamatan Karang Intan, Rabu (4/3/2026) pagi.
Menurut Said Idrus, kerja sama ini menandai perubahan besar dalam paradigma pemasyarakatan. Lapas tidak lagi sekadar menjadi tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pembelajaran dan pengembangan diri yang setara dengan lingkungan kampus.
“Sinergi ini menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Banjar dilakukan secara inklusif. Tidak ada yang ditinggalkan, semua diberi kesempatan, tanpa memandang latar belakang,” tegasnya.
Ia menilai, tantangan terbesar warga binaan justru muncul setelah masa hukuman berakhir. Tanpa bekal pendidikan dan keterampilan yang memadai, risiko kembali terjerumus pada pelanggaran hukum (residivisme) masih tinggi. Karena itu, kehadiran pendidikan tinggi di dalam lapas dinilai sebagai solusi strategis untuk memutus mata rantai tersebut.
Said Idrus pun berpesan agar para warga binaan memanfaatkan kesempatan emas ini dengan penuh kesungguhan.
“Jaket almamater yang kalian kenakan adalah simbol tanggung jawab baru. Belajarlah dengan tekun, perluas cara berpikir, dan buktikan kepada masyarakat bahwa saat bebas nanti, kalian tidak hanya membawa surat bebas, tetapi juga gelar sarjana dan pemikiran yang matang untuk ikut membangun daerah,” ujarnya penuh motivasi.
Sementara itu, Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan, Yugo Indra Wicaksi, menyebutkan bahwa program perkuliahan S1 ini merupakan yang pertama dan satu-satunya di Kalimantan. Sebanyak 29 warga binaan resmi tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Sosial dan Humaniora Program Studi Kewirausahaan Universitas PGRI Kalimantan.
“Program studi dipilih sesuai minat warga binaan. Universitas PGRI Kalimantan juga telah terakreditasi B, sehingga kualitas pendidikannya terjamin,” jelasnya.
Yugo menambahkan, pihak lapas selama ini juga menyelenggarakan pendidikan nonformal melalui Program Paket A, B, dan C. Warga binaan yang telah menuntaskan Paket C didorong untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sebagai bekal reintegrasi sosial setelah bebas.
Perkuliahan dijadwalkan berlangsung setiap Jumat dan Sabtu. Jika dosen berhalangan hadir secara langsung, pembelajaran tetap berjalan melalui sistem pembelajaran jarak jauh dengan dukungan komputer dan aplikasi konferensi daring yang difasilitasi pihak lapas.
Peluncuran program ini turut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pemasyarakatan Kalimantan Selatan Mulyadi, Rektor Universitas PGRI Kalimantan Alimuddin A Djawad, Pelaksana Harian Sekda Banjar Ikhwansyah, unsur Forkopimda, serta para warga binaan yang kini resmi menyandang status mahasiswa.
Program ini diharapkan menjadi tonggak penting pembinaan warga binaan berbasis pendidikan, sekaligus bukti nyata bahwa kesempatan untuk berubah selalu terbuka bagi siapa saja.



