Penulis:
Rosalia Wiratama (NIM. 2310713320002), Luthfi Al Bashir (NIM. 2310713310001), Rizki Ardiana (NIM. 2310713110001), Sapnah (NIM. 2310713220002), Rizqi Amalia Putri (NIM. 2310713120002).

Mahasiswa Prodi Perikanan Tangkap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Lambung Mangkurat
Pendahuluan
Perikanan tangkap merupakan sektor penting dalam penyediaan pangan dan sumber ekonomi bagi masyarakat pesisir di Indonesia. Namun, aktivitas penangkapan ikan yang tidak terkendali dan penggunaan alat tangkap yang merusak telah menyebabkan penurunan stok ikan secara signifikan. Praktik seperti penggunaan bom ikan, racun, dan alat tangkap tidak selektif berdampak langsung terhadap kerusakan ekosistem laut dan perairan. Oleh karena itu, diperlukan penerapan alat tangkap ramah lingkungan guna menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian sumber daya perikanan.
Alat tangkap ramah lingkungan didefinisikan sebagai alat yang memiliki selektivitas tinggi, tidak merusak habitat, serta meminimalkan hasil tangkapan sampingan (bycatch). Penggunaan alat tangkap ini menjadi salah satu indikator dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan yang berorientasi pada konservasi sumber daya. Selain itu, alat tangkap yang ramah lingkungan juga mendukung keberlangsungan ekonomi nelayan dalam jangka panjang. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong praktik perikanan yang bertanggung jawab.
Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti bom ikan, racun, dan alat tangkap tidak selektif menjadi salah satu penyebab utama kerusakan ekosistem perairan. Alat tangkap tersebut dapat merusak habitat seperti terumbu karang, padang lamun, dan dasar perairan. Selain itu, alat tangkap yang tidak selektif juga menyebabkan tertangkapnya ikan-ikan berukuran kecil dan spesies yang dilindungi. Dampak jangka panjangnya adalah terganggunya keseimbangan ekosistem dan menurunnya produktivitas perikanan
Penerapan alat tangkap ramah lingkungan masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran nelayan serta keterbatasan akses terhadap teknologi menjadi kendala utama. Terpantau di sisi lain, masih adanya penggunaan alat tangkap yang tidak sesuai aturan memperburuk kondisi sumber daya ikan. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi, pengawasan, serta dukungan kebijakan yang lebih kuat agar penggunaan alat tangkap ramah lingkungan dapat diterapkan secara luas.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan alat tangkap ramah lingkungan merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan. Permasalahan yang timbul akibat penggunaan alat tangkap yang merusak harus segera diatasi melalui pendekatan yang tepat. Dengan adanya kesadaran dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan aktivitas perikanan yang berkelanjutan dapat terwujud. Oleh karena itu, kajian mengenai alat tangkap ramah lingkungan menjadi sangat relevan untuk dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.
Alat Tangkap Ramah Lingkungan
Nelayan menggunakan berbagai jenis alat tangkap untuk melakukan penangkapan ikan, dan seiring waktu alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan semakin berkembang dan menjadi suatu keniscayaan dalam mengikuti kebutuhan akan keberlanjutan ekosistem laut. Alat
penangkapan ikan yang ramah lingkungan adalah alat penangkapan ikan yang tidak berdampak negatif terhadap lingkungan, tidak merusak dasar perairan, tidak berkontribusi terhadap polusi, tidak berdampak terhadap biodiversitas dan juvenil ikan, serta rendahnya bycatch (Devina & Pangabean, 2024). Alat tangkap ramah lingkungan adalah alat yang digunakan dalam kegiatan penangkapan ikan dengan meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem perairan. Alat ini dirancang memiliki tingkat selektivitas tinggi sehingga hanya menangkap ikan target dengan ukuran tertentu dan mengurangi tangkapan sampingan (bycatch). Selain itu, penggunaannya tidak merusak habitat seperti terumbu karang, padang lamun, maupun dasar perairan. Dengan demikian, alat tangkap ramah lingkungan mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan serta keseimbangan ekosistem secara jangka panjang.
Indikator alat tangkap ramah lingkungan dapat diketahui ketika membandingkan alat tangkap yang digunakan dengan kriteria alat tangkap ramah lingkungan yang sudah ditetapkan. Menurut Monintja (2001) dalam Nanholy (2013) kriteria teknologi penangkapan ikan memiliki beberapa aturan penting, yaitu: selektifitas yang tinggi; tidak membahayakan nelayan; tidak destruktif terhadap nelayan; produksinya berkualitas; produknya tidak membahayakan konsumen; bycatch dan discard minimum; tidak menangkap spesies yang dilindungi atau terancam punah; dampak minimum terhadap keanekaragaman hayati; dapat diterima secara sosial.
Prinsip alat tangkap ramah lingkungan menekankan pada tingkat selektivitas alat tangkap terhadap ikan target serta proporsi hasil tangkapan yang layak tangkap secara biologis. Selain itu, prinsip ini juga dilihat dari kemampuan alat tangkap dalam meminimalkan tangkapan sampingan dan memastikan bahwa sebagian besar hasil tangkapan dapat dimanfaatkan, sehingga tidak terjadi pemborosan sumber daya perikanan. Penilaian keramahan lingkungan juga didasarkan pada ukuran ikan yang tertangkap apakah sudah sesuai dengan ukuran matang gonad, sehingga tidak mengganggu regenerasi populasi ikan di alam. Dengan demikian, alat tangkap dikatakan ramah lingkungan apabila mampu menghasilkan tangkapan yang dominan merupakan target utama, berukuran layak tangkap, serta memiliki tingkat pemanfaatan hasil tangkapan yang tinggi tanpa merusak keberlanjutan sumber daya perikanan (Prasetya, Purnama , & Kurohman, (2024).
Jenis-Jenis Alat Tangkap Ramah Lingkungan
Jenis alat tangkap ikan sangat beragam dan umumnya diklasifikasikan berdasarkan cara operasi serta bentuk konstruksinya. Berdasarkan penelitian terbaru, alat tangkap dapat dibedakan menjadi alat tangkap aktif seperti pukat cincin (purse seine) dan alat tangkap pasif seperti pancing serta bubu. Alat tangkap aktif bekerja dengan cara mengejar atau mengurung ikan, sedangkan alat tangkap pasif menunggu ikan masuk atau tertangkap. Keberagaman ini menunjukkan bahwa pemilihan alat tangkap sangat dipengaruhi oleh kondisi perairan dan jenis ikan target (Devina & Pangabean, 2024).
Menurut Prajaputra ., dkk. (2023), secara umum jenis-jenis alat tangkap ramah lingkungan dikategorikan menjadi beberapa jenis yaitu: Pancing Ulur; Rawai; Jaring Insang; Bubu; Pancing Tonda; Jaring Angkat; Pukat Cincin. Jenis-jenis ini sering disebut dalam penelitian di Indonesia sebagai alat tangkap dengan tingkat keramahan lingkungan tinggi atau sedang, karena selektivitas dan dampaknya kecil terhadap habitat.
- Pancing Ulur
Alat ini sangat ramah lingkungan karena memiliki selektivitas tinggi, hanya menangkap ikan target dan hampir tidak merusak habitat. Pancing ulur termasuk kategori sangat ramah lingkungan karena minim bycatch dan tidak merusak ekosistem (Devina & Pangabean, 2024). Menurut Pou., dkk (2024), pancing ulur merupakan alat tangkap yang sangat ramah lingkungan karena memiliki selektivitas tinggi dan hanya menangkap ikan target sehingga tidak merusak populasi ikan maupun habitatnya.
- Rawai
Rawai juga tergolong alat tangkap yang ramah lingkungan karena memiliki selektivitas yang tinggi serta tidak memberikan dampak besar terhadap lingkungan maupun sumberdaya. Selektivitas rawai terletak pada mata pancingnya. Rawai yang dioperasikan memiliki ukuran mata pancing yang disesuaikan dengan target tangkapannya. Selain itu, ukuran pancing juga menentukan ukuran ikan yang hendak ditangkap. Ukuran mata pancing yang besar tentunya tidak dapat menangkap ikan yang berukuran kecil begitupun sebaliknya (Subehi., dkk. 2017).
- Jaring Insang
Jaring insang merupakan alat tangkap yang tidak merusak habitat, tempat tinggal dan tempat berkembang biak ikan atau organisme. Hal ini dikarenakan alat tangkap gill net dioperasikan pada kolom perairan atas atau permukaan (surface) sehingga memiliki kemungkinan yang kecil untuk merusak karang maupung padang lamun. (Subehi., dkk, 2017).
- Bubu
Bubu tergolong alat tangkap ramah lingkungan karena tidak merusak ekosistem dasar laut. Menurut Devina & Pangabean (2024), bubu termasuk alat tangkap sangat ramah lingkungan karena bersifat pasif, tidak merusak habitat, dan memiliki selektivitas alami.
- Pancing Tonda
Menurut Wijayanti & Wahyuningsih (2025), pancing tonda termasuk alat tangkap sangat ramah lingkungan karena selektif dan memiliki bycatch rendah.
- Jaring Angkat
Menurut Devina & Pangabean (2024), jaring angkat termasuk alat tangkap ramah lingkungan karena tidak merusak dasar perairan dan pengoperasiannya dapat dikontrol langsung. Jaring diturunkan ke dalam air dalam kondisi terbuka, kemudian diangkat secara vertikal setelah ikan berkumpul (biasanya dibantu cahaya lampu pada malam hari). Metode ini tidak menyentuh dasar perairan.
- Pukat Cincin
Pukat cincin atau dikenal dengan purse seine, yang menjadi salah satu alat tangkap paling unggul karena banyak nelayan menggunakan pukat cincin untuk menangkap ikan pelagis dalam gerombolan. Modifikasi ramah lingkungan dilakukan dengan meningkatkan selektivitas dan mengurangi tangkapan sampingan (Prajaputra, Isnaini, & Miraza, 2023).
Dampak Alat Tangkap Ramah Lingkungan Terhadap Ekosistem Perairan
Dampak penggunaan alat tangkap ramah lingkungan terhadap ekosistem perairan pada umumnya bersifat positif karena mampu menjaga keseimbangan habitat dan sumber daya ikan. Alat tangkap ini dirancang memiliki selektivitas tinggi sehingga hanya menangkap ikan target dan meminimalkan tangkapan sampingan (bycatch). Dengan demikian, struktur populasi ikan tetap terjaga dan risiko penangkapan berlebih dapat dikurangi. Selain itu, penggunaan alat tangkap ramah lingkungan juga membantu mempertahankan fungsi ekosistem perairan secara alami (Devina & Pangabean, 2024).
Penggunaan alat tangkap ramah lingkungan juga berdampak pada kelestarian habitat dasar perairan seperti terumbu karang dan padang lamun. Berbeda dengan alat tangkap destruktif, alat ini tidak merusak substrat dasar sehingga biota laut tetap memiliki tempat hidup yang aman. Kondisi ini penting karena kerusakan habitat dapat menurunkan produktivitas perikanan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penerapan alat tangkap ramah lingkungan menjadi salah satu kunci dalam mendukung perikanan berkelanjutan (Tarsono & Prasetyo, 2017).
Selain berdampak pada lingkungan, alat tangkap ramah lingkungan juga memberikan efek jangka panjang terhadap keberlanjutan sumber daya ikan. Penggunaan alat ini mampu menjaga keseimbangan ekosistem sehingga stok ikan tetap tersedia bagi generasi mendatang. Sebaliknya, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan terbukti dapat merusak habitat dan menurunkan populasi ikan secara signifikan. Dengan demikian, penerapan teknologi penangkapan yang ramah lingkungan menjadi solusi penting dalam menjaga ekosistem perairan tetap stabil dan produktif.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari artikel dengan judul alat tangkap ramah lingkungan ini adalah:
- Berdasarkan pembahasan di atas, alat tangkap ramah lingkungan merupakan alat yang dirancang untuk meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem perairan dengan tingkat selektivitas yang tinggi, tidak merusak habitat, serta mengurangi tangkapan sampingan (bycatch).
- Jenis-jenis alat tangkap seperti pancing ulur, rawai, gillnet, bubu, pancing tonda, jaring angkat, dan pukat cincin termasuk dalam kategori ramah lingkungan karena memiliki prinsip kerja yang tidak merusak lingkungan dan dapat dikontrol penggunaannya.
- Penggunaan alat tangkap tersebut terbukti memberikan dampak positif terhadap ekosistem perairan, seperti menjaga keseimbangan populasi ikan, melindungi habitat dasar perairan, serta mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan. Oleh karena itu, penerapan alat tangkap ramah lingkungan menjadi langkah penting dalam mewujudkan perikanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab di masa kini maupun masa mendatang.



