REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga 7 Agustus 2026 mencapai 664,194 hektare dari 114 kejadian.
Kecamatan Landasan Ulin menjadi wilayah terparah dengan luas lahan yang terbakar paling besar.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Banjarbaru, Zaini Syahranie mengatakan, dari hasil rekapitulasi Pos Komando Penanganan Darurat Bencana, luas lahan yang terbakar tahun ini meningkat cukup signifikan.
“Lahan yang terbakar dari hasil hitungan kami melalui Posko itu jumlahnya sekitar 664 hektare, terdiri dari 114 kejadian sejak Januari sampai sekarang. Ini cukup lumayan besar di tahun 2026,” ujarnya, Jumat (7/8/26).
Berdasarkan data BPBD, Kecamatan Landasan Ulin mencatat 46 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 331,61 hektare, disusul Liang Anggang sebanyak 13 kejadian dengan luas 151,9 hektare.
Kemudian, Cempaka 38 kejadian seluas 111,8 hektare, Banjarbaru Utara 9 kejadian seluas 67,17 hektare, dan Banjarbaru Selatan 8 kejadian dengan luas 1,714 hektare.
Ia menjelaskan, tingginya luas kebakaran di Landasan Ulin dipengaruhi oleh karakteristik lahan yang didominasi gambut dan semi gambut sehingga api lebih sulit dipadamkan.
“Wilayah yang terdampak paling parah sekarang di Kecamatan Landasan Ulin, karena yang terbakar merupakan lahan gambut dan semi gambut, sehingga cukup sulit untuk dipadamkan,” jelasnya.
Zaini menyebutkan, titik kebakaran terbesar berada di kawasan selatan Kecamatan Landasan Ulin yang berbatasan dengan Kabupaten Tanah Laut (Tala).
“Lokasinya di bagian selatan Landasan Ulin, berbatasan dengan Pelaihari. Di sana memang banyak lahan gambut dan semi gambut,” sebutnya.
Menurutnya, peningkatan kejadian kebakaran mulai terlihat pada akhir Juli seiring kondisi cuaca yang semakin kering.
“Yang paling parah terjadi mulai akhir bulan Juli,” pungkasnya.



