REDAKSI8.COM, LAMPUNG SELATAN – Pelaksanaan Operasi Ketupat Krakatau (OKK) 2026 di wilayah hukum Polda Lampung menuai apresiasi luar biasa dari masyarakat. Hasil kajian akademik yang dilakukan tim peneliti Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) www.radenintan.ac.id mencatat tingkat kepuasan publik terhadap pengamanan arus mudik dan balik Idulfitri 1447 Hijriah mencapai angka fantastis, yakni 98,2 persen.
Temuan tersebut dipaparkan dalam kegiatan Verifikasi Pengusulan Nugraha Sakanti Polda Lampung yang digelar di GSG Polda Lampung, Jumat (22/5/2026).

Penelitian dilakukan oleh tim gabungan akademisi UIN RIL bersama CIC (Konsultan Riset dan Sosial) yang terdiri dari Gesit Yudha, M.IP, Fadhilah Faiqoh, M.A, serta Maulana Bagus Rahmat.
Tak hanya melakukan survei kepuasan masyarakat, tim akademisi juga terlibat dalam penyusunan buku pedoman strategi pengamanan Operasi Ketupat Krakatau 2026 yang menjadi bagian penting evaluasi dan penguatan sistem pengamanan mudik di Provinsi Lampung.
Kajian tersebut menyoroti keberhasilan Polda Lampung dalam mengelola arus mobilitas jutaan pemudik di tengah posisi strategis Lampung sebagai gerbang utama penghubung Pulau Jawa dan Sumatera.
Selama 13 hari pelaksanaan operasi, mulai H-7 hingga H+6 Lebaran, lebih dari 913 ribu penumpang dan 213 ribu kendaraan tercatat melintas di jalur utama, khususnya Tol Trans Sumatera dan Pelabuhan Bakauheni.
Besarnya volume kendaraan itu berhasil diantisipasi melalui berbagai rekayasa lalu lintas seperti one way, contra flow, sistem buffer zone, hingga penguatan pengamanan di titik rawan kemacetan.
Operasi Ketupat Krakatau 2026 sendiri melibatkan lebih dari 4.000 personel gabungan yang tersebar di 60 pos pengamanan, 20 pos pelayanan, 16 posko bencana, satu Posko SAR, serta satu Pos Terpadu di 15 kabupaten dan kota di Provinsi Lampung.
Hasilnya cukup signifikan. Angka kecelakaan lalu lintas turun 16 persen dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, tidak terjadi kemacetan panjang di jalur utama dan nihil kasus pembegalan selama masa mudik berlangsung.
Salah satu program yang mendapat sorotan positif ialah pengawalan aman terhadap lebih dari 11 ribu kendaraan roda dua pemudik.
Dalam penelitian tersebut, tim akademisi melakukan survei terhadap 1.204 responden dari total populasi 5.000 pengguna layanan mudik. Responden berasal dari berbagai kelompok, mulai pemudik kendaraan roda dua, pengguna jalan tol, pengguna jalur lintas tengah dan arteri, hingga pengguna jasa penyeberangan Pelabuhan Bakauheni.
Pengukuran dilakukan menggunakan skala Likert dengan berbagai indikator, seperti keamanan perjalanan, kelancaran lalu lintas, pelayanan petugas, penanganan kemacetan, fasilitas pos pengamanan, layanan kesehatan, hingga kualitas informasi publik.
Hasilnya, sebanyak 71,2 persen responden menyatakan sangat puas dan 27 persen menyatakan puas terhadap pelaksanaan operasi. Hanya 1,8 persen responden yang mengaku kurang puas.
Tim peneliti menilai keberhasilan tersebut tidak hanya dipengaruhi teknologi dan sistem rekayasa lalu lintas, tetapi juga kualitas pelayanan humanis aparat di lapangan.
“Sentuhan kemanusiaan petugas menjadi faktor paling dominan dalam membangun kepuasan publik. Sikap ramah, komunikasi yang baik, serta respons cepat aparat jauh lebih membekas di masyarakat,” ujar Gesit Yudha.
Analisis regresi ordinal dalam penelitian itu menunjukkan kualitas pelayanan personel Polri menjadi faktor utama yang memengaruhi kepuasan masyarakat dengan odds ratio sebesar 11,29 kali. Disusul manajemen lalu lintas sebesar 9,92 kali, fasilitas infrastruktur 2,41 kali, informasi dan teknologi 1,86 kali, serta manajemen pelabuhan 1,66 kali.
Selain pelayanan lapangan, aplikasi digital SIGER Lampung Presisi juga dinilai berkontribusi besar dalam keberhasilan operasi mudik tahun ini. Aplikasi tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh informasi kondisi lalu lintas secara real time, lokasi rest area, jalur perjalanan, hingga layanan kedaruratan.
Survei mencatat tingkat kepuasan pengguna aplikasi SIGER Lampung Presisi mencapai 97 persen.
Polda Lampung juga menjalankan berbagai program pelayanan humanis seperti Mudik Gratis, Kawal Mudik, Penitipan Kendaraan Gratis, Dokter Keliling, hingga layanan Mini ICU di sejumlah titik strategis.
Meski demikian, tim peneliti tetap memberikan sejumlah catatan evaluasi. Kajian tersebut menemukan adanya peningkatan kasus pencurian dengan pemberatan sebesar 62 persen serta kenaikan korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas sebesar 18 persen dibanding periode sebelumnya.
Sebagai rekomendasi, tim akademisi mendorong peningkatan kompetensi pelayanan humanis aparat, penguatan manajemen lalu lintas berbasis data, penambahan fasilitas di titik padat pemudik, perluasan penggunaan aplikasi digital, serta penguatan koordinasi lintas instansi di kawasan Pelabuhan Bakauheni.
Kajian akademik ini sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi antara institusi pendidikan dan aparat penegak hukum mampu menghasilkan inovasi pelayanan publik yang lebih efektif, humanis, dan berbasis riset ilmiah.



