REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Musim kemarau yang berlangsung lebih dari satu bulan mulai berdampak terhadap petani hortikultura di Kota Banjarbaru.
Selain kekeringan, serangan hama ulat turut mengganggu pertumbuhan tanaman hingga penurunan hasil panen.

Seperti salah satu petani daun bawang di Jalan Rahmat Kampung Baru, Kelurahan Landasan Ulin Barat, Banjarbaru, Suhardadi menyampaikan, kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat, sementara produktivitas tanaman justru menurun.
“Kebetulan saat ini musim kemarau, sudah 1 bulan lebih. Dampak ke tanaman sayuran di sini ada hama ulat, kemudian kekeringan,” ucapnya, Kamis (30/7/26).
Menurut Dadi, petani awalnya mengendalikan hama menggunakan pestisida.
Namun karena tidak berhasil, maka penanganan dilakukan secara manual dengan memangkas daun yang terserang agar hama tidak menyebar ke tanaman lain.
Di sisi lain, kekeringan menjadi tantangan tersendiri.
Sumur yang selama ini digunakan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air sehingga petani terpaksa membuat sumur baru untuk menjaga pasokan air bagi tanaman.
Ia mengaku, kondisi semakin sulit karena pemadaman listrik yang masih sering terjadi ikut menghambat proses penyiraman menggunakan pompa air.
“Dan satu lagi, karena dampak dari sering kali terjadi pemadaman listrik, otomatis petani di sini cukup terdampak karena saat pemadaman listrik tidak bisa melakukan penyiraman tanaman,” katanya.
“Jadi kalau pas mati listrik kadang disiram, tapi kalau yang terlalu kering sekali itu kita menggunakan manual, menggunakan ember, disiram satu per satu,” tambahnya.
Adapun yang ia tanam adalah daun bawang atau bawang prei sebanyak empat balur, dan masing-masing balur memiliki panjang sekitar 40 meter dengan lebar satu meter.
Meski telah dua kali panen dengan hasil yang cukup baik, musim kemarau dan serangan hama diperkirakan memangkas produktivitas sekitar 30 persen dibanding kondisi normal.
“Dalam 4 balur ini hasilnya bisa mencapai Rp12 juta, itu kalau dalam kondisi normal. Tapi kalau dalam kondisi kekeringan dan hama ulat seperti ini tentu hasilnya merosot atau turun,” ujarnya.
Selain hasil panen yang berkurang, pertumbuhan tanaman juga menghambat pertumbuhan tanaman sehingga biaya operasional ikut membengkak.
Dadi berharap, Pemerintah Daerah turun langsung melihat kondisi petani yang terdampak kekeringan dan serangan hama ini, sekaligus memberikan bantuan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Harapannya kepada pemerintah pada saat kondisi pertanian terdampak kekeringan dan ada hama seperti ini, kalau bisa pemerintah turun ke lapangan melihat kondisi petani, apa yang perlu dibantu, dan eksekusinya seperti apa,” tuturnya.
Ia menambahkan, daun bawang merupakan salah satu komoditas hortikultura andalan Kalimantan Selatan dengan pasar hingga Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
“Jika produksi terur berkurang, maka pasokan ke pasar tentu akan berkurang dan memicu kenaikan harga,” pungkasnya.



