REDAKSI8.COM, JAKARTA – Independensi pers kembali diuji.
Kabar mengejutkan datang dari Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso, yang secara blak-blakan mengungkap adanya dugaan upaya ‘operasi senyap’ untuk meredam pemberitaan kasus mantan Jampidsus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah.


Sugeng mengaku dirinya sempat didatangi oleh seorang oknum wartawan senior yang meminta pemberitaan terkait Febrie tidak lagi digarap secara tajam.
Pertemuan yang berlangsung secara khusus di kediaman Sugeng itu memicu tanda tanya besar terkait siapa aktor di balik permintaan tersebut.
“Dia meminta pertemuan khusus di kebun saya. Awalnya bicara ngalor-ngidul, tapi kemudian nama FA (Febrie Adriansyah) masuk ke meja pembicaraan,” ungkap Sugeng kepada awak media, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Sugeng, oknum wartawan tersebut merupakan orang yang sudah dikenalnya selama puluhan tahun.
Kalimat rayuan pun terlontar untuk melunakkan sikap IPW.
“Begini bos, saya ini sudah berteman lama dengan FA, dilandaikan (dikurangi penulisan kritik tajam<-red) saja pemberitaannya,” kata Sugeng menirukan ucapan sang wartawan.
Pengakuan Sugeng tidak berhenti di situ. Ia menyebutkan fenomena itu bukan kali pertama terjadi.
Sekitar empat bulan lalu, seorang advokat kondang yang kerap menangani perkara selebritas sempat mendekatinya.
Tujuannya mengajak Sugeng ikut mencari ‘pundi-pundi rezeki’ dari perkara Febrie.
“Memang terkenal oknum advokat itu. Dia minta kepada saya untuk mencari rezeki dari kasus FA, namun saya tolak mentah-mentah,” tegasnya.
Meski Sugeng memilih untuk tidak menyebutkan nama-nama spesifik yang mendatangi dirinya, pengakuan tersebut cukup untuk menyibak adanya gerilya kepentingan yang mencoba menyusup ke ruang-ruang publik demi menjaga citra pihak tertentu.
Menanggapi fenomena itu, Ketua PWI DKI Jakarta, Kesit B Handoyo menegaskan, wartawan memiliki mandat moral untuk tetap berdiri di atas fakta, bukan pesanan.
“Wartawan harus bersikap independen serta menghasilkan berita yang akurat dan berimbang,” begitu kata dia.
“Menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik adalah harga mati,” sambung Kesit.



