REDAKSI8.COM, KALSEL – Inflasi Kalimantan Selatan (Kalsel) tercatat lebih tinggi dibandingkan angka nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (yoy) Kalsel pada Februari 2026 mencapai 5,97 persen, melampaui inflasi nasional sebesar 4,76 persen.

Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Kalsel Muhidin menggelar pertemuan bersama perwakilan Bank Indonesia, BPS, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Direktorat Jenderal Perbendaharaan, serta jajaran Pemerintah Provinsi Kalsel di Banjarmasin pada Minggu (8/3/26).
Pertemuan itu dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Menteri Dalam Negeri untuk membahas kondisi inflasi daerah sekaligus merumuskan langkah pengendalian agar tidak terus meningkat.
Dari data BPS menunjukkan inflasi bulanan (mtm) Kalsel pada Februari 2026 mencapai 0,86 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,68 persen.
“Sementara secara tahunan, inflasi daerah juga tercatat lebih tinggi dari rata-rata nasional,” ucap Muhidin.
Ia menjelaskan, dua komoditas utama yang menjadi penyumbang terbesar inflasi di Kalsel adalah listrik dan emas.
“Penyumbang inflasi paling tinggi pertama listrik, kedua emas, dan selebihnya komoditas lain,” ujarnya.
“Untuk listrik secara nasional sebenarnya hampir sama karena tahun lalu ada program diskon listrik 50 persen, sehingga dalam perbandingan tahunan terlihat meningkat,” tambahnya.
Selain itu, tingginya permintaan masyarakat terhadap emas perhiasan juga menjadi faktor pendorong inflasi di daerah.
“Di Kalsel ini daya beli masyarakat terhadap emas perhiasan cukup tinggi, bahkan inflasinya lebih tinggi dibandingkan nasional,” katanya.
Demikian, Muhidin mengimbau, masyarakat agar lebih bijak dalam memilih jenis investasi emas sehingga tidak ikut memicu kenaikan harga.
Sebab, angka inflasi tahunan di Kalsel sebenarnya dapat lebih rendah jika tidak dipengaruhi oleh faktor kenaikan listrik dan harga emas tersebut.
“Untuk pangan relatif rendah. Stok bahan pokok di Kalsel juga cukup menjelang lebaran sehingga diharapkan harga tetap stabil,” imbuhnya.
Di sisi lain, ia menilai tingginya minat masyarakat membeli emas juga menandakan kondisi ekonomi daerah yang cukup baik.
“Perekonomian Kalsel cukup bagus dan berada di atas nasional, sehingga daya beli masyarakat meningkat, termasuk dalam membeli emas,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala BPS Kalimantan Selatan, Mukhamad Mukhanif menyebutkan, sejumlah komoditas lain yang turut memberikan andil terhadap inflasi di daerah adalah beras, daging ayam ras, serta sigaret kretek mesin.
Selain itu, BPS mencatat harga emas perhiasan dalam satu tahun terakhir mengalami kenaikan hingga 78,99 persen sehingga memberi kontribusi besar terhadap inflasi Kalsel.
“Pemerintah Provinsi Kalsel bersama sejumlah lembaga terkait akan terus memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas harga sekaligus mengendalikan inflasi di daerah,” tandasnya.



