REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Harga cabai rawit merah di Kota Banjarbaru makin mahal. Saat ini harganya sudah mencapai Rp100 ribu per kilogram (kg).
Hal tersebut diungkapkan oleh seorang Pedagang di Pasar Bauntung, Kota Banjarbaru Sumaria (40), katanya, kenaikan harga cabai rawit kurang lebih sudah setengah bulan ini.


“Sekarang harga cabai rawit Rp100 ribu, sudah setengah bulanan naiknya. Sebelumnya dari Rp50 ribu ke Rp60 ribu, pokoknya bertahap setiap hari naik,” ungkapnya.
Tidak hanya cabai rawit, harga cabai merah besar pun ikut naik. Dari Rp30 ribu naik jadi Rp100 ribu per kilogram.
Meski demikian, cabai hijau besar masih stabil di harga Rp20 ribu per kilogram.
Menurut Sumaria, kenaikan itu terjadi disebabkan stok cabai lokal yang sudah tidak ada (belum panen<-red), sehingga Ia harus mendatangkan dari luar Kota.
“Ini nggak ada lombok (cabai) lokal, ini lombok kiriman dari Jawa dan Sulawesi. Mungkin karena musim kemarau jadi tidak ada lombok,” pikirnya.
Jika kenaikan terus berlanjut, bagi Sumaria akan memberatkan para konsumen dan pedagang lain, seperti warung makan yang sulit menaikan harga.
“Ya komplain, biasa beli 1 kilo jadi setengah, biasa beli 5 kilo jadi 3 kilo, jadi dikurangi belinya,” terangnya.
Di waktu yang berbeda, seorang pedagang Ayam Geprek, Nurdin mengharapkan harga cabai rawit bisa kembali normal lagi.
“Bagaimana lagi karena cabai itu bahan pokok di warung saya. Tapi kita maklumi ini mungkin karena cuaca dan kemarau,” cetusnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan (Disdag), Kota Banjarbaru, Anshori mengatakan, berdasarkan pantauan hari ini per Senin (27/11/2023) harga cabai rawit merah memang sudah mencapai Rp100 ribu per kilogram.
“Karena dampak kemarau panjang, petani baru tanam dan belum panen, sehingga pasokan di pasar berkurang,” bebernya.
Pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk menekan kenaikan harga tersebut. Namun dapat dipastikan stok cabai tetap terpenuhi untuk Kota Banjarbaru.
“Kita hanya memantau dan yang penting stok tersedia tidak bergejolak,” tukasnya.
“Kalau mahal paling orang-orang mengurangi pembeliannya atau tidak beli, karena cabai bukan bahan pokok seperti beras,” pungkasnya.

