REDAKSI8.COM, BANJAR – Peringatan Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, momen ini menjadi ruang refleksi untuk melihat sejauh mana arah dan keberanian dalam membangun peradaban melalui pendidikan.
Seperti pesan Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan dalam tumbuh kembang manusia. Artinya, setiap kebijakan pendidikan sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi masa depan daerah.
Di Kalimantan Selatan, geliat pembangunan sektor pendidikan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang cukup menggembirakan. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK telah menembus angka lebih dari 90 persen pada tahun 2025, naik signifikan dibandingkan lima tahun sebelumnya yang masih di kisaran 85 persen.
Tak hanya itu, peningkatan juga terlihat pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya pada sektor pendidikan. Rata-rata lama sekolah masyarakat kini telah mencapai lebih dari 8,5 tahun. Angka ini menjadi indikator penting bahwa akses pendidikan semakin luas dan merata.
Capaian tersebut tentu bukan hadir begitu saja. Ia lahir dari pendekatan pembangunan yang mengedepankan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah mengusung semangat “Bekerja Bersama, Merangkul Semua”, sebuah konsep yang menempatkan pendidikan sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya sekolah semata.
Berbagai program konkret pun terus digulirkan. Mulai dari revitalisasi sekolah, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan berkelanjutan, hingga digitalisasi pembelajaran. Hasilnya, lebih dari 70 persen sekolah menengah di Kalimantan Selatan kini telah terhubung dengan platform pembelajaran digital, sebuah langkah penting di era transformasi teknologi.
Namun demikian, tantangan belum sepenuhnya teratasi. Di sejumlah wilayah terpencil, khususnya daerah berbasis sungai, akses dan pemerataan kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah. Keterbatasan fasilitas serta distribusi tenaga pendidik yang belum merata menjadi catatan penting.
Meski begitu, langkah-langkah seperti program guru garis depan dan penguatan sekolah berbasis komunitas menunjukkan arah kebijakan yang terus bergerak ke jalur yang tepat.
Dalam kearifan lokal Banjar, dikenal istilah gawi sabumi, bekerja bersama dalam satu kesadaran kolektif. Nilai ini sejalan dengan semangat pembangunan pendidikan yang inklusif: tidak meninggalkan siapa pun, serta memberi ruang bagi setiap anak untuk tumbuh dan berkembang.
Sebagaimana dikatakan Nelson Mandela, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Dalam konteks Kalimantan Selatan, pendidikan menjadi kunci membangun daya saing daerah, memperkuat identitas budaya, sekaligus menjawab tantangan zaman.
Hari ini, fondasi itu tengah dibangun. Dengan capaian yang terus meningkat dan komitmen kolaborasi yang kuat, Kalimantan Selatan berada di jalur yang menjanjikan.
Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar angka statistik. Ia adalah harapan yang tumbuh di ruang kelas sederhana, di tepian sungai, hingga di pelosok Banua. Di sanalah masa depan Kalimantan Selatan sedang ditulis, satu generasi demi generasi.



