REDAKSI8.COM, BANJAR – Suasana sore di Taman Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura, Sabtu (9/5/2026), tampak lebih semarak dari biasanya. Ruang Publik Ramah Anak (RPRA) yang biasanya dipenuhi aktivitas bermain dan rekreasi keluarga, kali ini menjadi lokasi edukasi gizi yang dikemas secara kreatif dan interaktif oleh Forum Anak Daerah Kabupaten Banjar melalui kegiatan bertajuk Sabuting Hintalu Gasan Anak (SHANAK).
Kegiatan ini bukan sekadar aksi sosial biasa, melainkan gerakan edukatif yang menyasar langsung masyarakat pengunjung taman, khususnya anak-anak dan orang tua, untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya konsumsi protein hewani sebagai langkah nyata dalam pencegahan stunting di Kabupaten Banjar.
Sejak sore hari, para anggota Forum Anak dengan atribut khas mereka terlihat aktif menyusuri area taman. Mereka menyapa pengunjung dengan ramah, mengajak berdialog ringan, serta memberikan edukasi sederhana tentang manfaat gizi seimbang bagi pertumbuhan anak. Tidak sedikit pengunjung yang awalnya hanya berwisata santai, kemudian ikut terlibat dalam interaksi edukatif tersebut.
Sebagai bentuk kampanye langsung, Forum Anak juga membagikan paket makanan bergizi berupa telur, susu, roti, dan pisang kepada anak-anak yang berada di area taman. Telur dipilih sebagai simbol utama karena dianggap sebagai sumber protein hewani yang mudah dijangkau, terjangkau, dan memiliki kandungan gizi tinggi untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Kegiatan ini mendapat perhatian dan apresiasi dari Kasi Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak (PHPPA) Kabupaten Banjar, Dyah Februari Wardhani, yang turut hadir mendampingi jalannya kegiatan. Ia menilai inisiatif tersebut sebagai langkah positif yang mampu menggabungkan edukasi, partisipasi anak, dan pemanfaatan ruang publik secara optimal.
“Kami sangat mendukung inisiatif adik-adik Forum Anak di Taman CBS ini. Ruang publik seperti ini bukan hanya tempat bermain, tetapi juga sarana edukasi. Melalui program SHANAK, pesan penting tentang pemenuhan gizi anak dapat tersampaikan langsung kepada masyarakat sebagai upaya bersama mencegah stunting di Kabupaten Banjar,” ujarnya.
Kehadiran Forum Anak dengan pendekatan edukasi yang santai dan komunikatif membuat suasana taman menjadi lebih hidup. Anak-anak terlihat antusias dan gembira saat menerima bingkisan, sementara para orang tua juga tampak menyambut baik kegiatan tersebut karena memberikan pemahaman praktis mengenai pentingnya asupan gizi seimbang.
Dua anak penerima manfaat, Hanifa dan Hadiba, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya mendapatkan makanan tambahan, tetapi juga pengetahuan baru tentang manfaat telur bagi kesehatan.
“Tadi lagi main perosotan, terus dipanggil kakak-kakak Forum Anak. Senang sekali dapat bingkisan telur, susu, roti, dan pisang. Katanya telur itu sehat, jadi kami senang bisa makan bersama di taman,” ungkap mereka dengan penuh antusias.
Sementara itu, Ketua Divisi Forum Anak Daerah, Septi Riyanti, menjelaskan bahwa pemilihan Taman CBS Martapura sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada perannya sebagai salah satu ruang publik ramah anak yang ramai dikunjungi keluarga setiap akhir pekan. Hal ini dinilai efektif untuk menjangkau masyarakat secara langsung.
“Melalui gerakan SHANAK ini kami ingin mengedukasi teman sebaya dan orang tua bahwa hidup sehat tidak harus mahal. Cukup dengan mengonsumsi telur secara rutin, itu sudah menjadi investasi besar bagi masa depan anak-anak Banjar,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan edukasi berbasis ruang publik seperti ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat sejak dini, sekaligus mendorong perubahan perilaku dalam pola konsumsi harian keluarga.
Kegiatan ditutup dengan suasana hangat melalui dialog ringan antara Forum Anak dan para orang tua. Diskusi tersebut membahas pentingnya peran keluarga dalam menyediakan makanan bergizi, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam melindungi hak-hak anak, khususnya di bidang kesehatan dan pemenuhan gizi.
Dengan pendekatan yang kreatif, edukatif, dan langsung menyentuh masyarakat, kegiatan SHANAK di Taman CBS Martapura menjadi contoh nyata bagaimana edukasi gizi dapat dikemas secara sederhana namun berdampak luas bagi kesadaran publik.



