REDAKSI8.COM, Banjar – Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2025 kembali menjadi magnet wisata budaya yang menyedot perhatian ribuan pengunjung dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan. Selama dua hari pelaksanaan, Sungai Martapura di Kecamatan Sungai Tabuk berubah menjadi lautan jukung, perahu tradisional khas masyarakat Banjar yang berjejer rapat di permukaan air.
Berdasarkan data panitia, jumlah pengunjung festival tahun ini meningkat pesat. “Selama dua hari pelaksanaan, jumlah pengunjung meningkat menjadi tiga hingga lima ribu orang berdasarkan sirkulasi perahu yang datang,” jelas salah satu panitia penyelenggara.
Peningkatan ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap tradisi pasar terapung yang kian dikenal luas sebagai ikon budaya Kalimantan Selatan.
Suasana Pagi di Atas Sungai Martapura
Sejak matahari belum tinggi, ratusan pedagang sudah bersiap di atas jukung masing-masing. Mereka membawa aneka hasil kebun, sayur-mayur, buah-buahan, kue tradisional Banjar seperti amparan tatak, lupis, dan lamang, hingga produk kerajinan tangan dari purun dan rotan.
Para pedagang, yang sebagian besar merupakan ibu-ibu, tampak menawan dengan busana sasirangan berwarna cerah, menambah semarak panorama di atas sungai.

Dentuman musik tradisional, tabuhan rebana, dan alunan lagu Banjar klasik mengiringi transaksi jual beli yang dilakukan secara manual bahkan barter, sebuah sistem yang menjadi ciri khas unik pasar terapung Lok Baintan sejak dahulu kala.
“Di sini kami masih melestarikan sistem barter. Misalnya, kami bisa menukar hasil kebun dengan kue atau kebutuhan rumah tangga. Nilainya tidak selalu sepadan, tapi yang penting saling membantu,” ujar Halimah, salah satu pedagang asal Desa Lok Baintan sambil tersenyum.
Warisan Budaya Sungai yang Terus Dihidupkan
Festival Pasar Terapung bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya sungai yang telah menjadi identitas masyarakat Banjar selama ratusan tahun. Tradisi berdagang di atas air menjadi simbol kearifan lokal yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat pesisir sungai.
Pj Sekda Kabupaten Banjar dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan festival yang berhasil menjaga keseimbangan antara nilai budaya dan potensi wisata daerah.
“Pasar terapung ini bukan hanya objek wisata, tetapi juga warisan budaya yang harus terus kita jaga. Pemerintah daerah berkomitmen mendukung kegiatan ini agar menjadi agenda tahunan yang semakin besar dan berdaya saing,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa festival seperti ini memiliki dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat sekitar, terutama pelaku UMKM dan pengrajin lokal. Selain menjadi ajang promosi produk daerah, kegiatan ini juga membuka peluang bagi wisatawan untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat sungai.
Atraksi Budaya dan Edukasi Wisata
Tak hanya transaksi di atas air, berbagai atraksi budaya turut memeriahkan festival, seperti lomba menghias jukung, tari-tarian tradisional Banjar, hingga pameran foto dokumenter yang menampilkan sejarah panjang pasar terapung. Di sisi sungai, ratusan pengunjung tampak antusias menyaksikan prosesi dagang dan aktivitas masyarakat sungai yang dikemas sebagai “eduwisata budaya”.
Para pelajar dari berbagai sekolah juga diajak untuk belajar tentang pentingnya melestarikan tradisi dan menjaga kebersihan sungai. “Kegiatan ini sangat bagus untuk edukasi generasi muda. Mereka bisa melihat langsung bahwa sungai bukan hanya tempat aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang budaya yang hidup,” ujar salah satu guru pendamping.
Akhir yang Meriah dan Penuh Keakraban
Menjelang penutupan, suasana semakin hangat dengan pembagian doorprize kepada para pedagang dan pengunjung. Acara ini dipandu langsung oleh Pj Sekda Kabupaten Banjar bersama sejumlah pejabat daerah lainnya.
Melalui sesi tanya jawab ringan seputar sejarah pasar terapung dan kebudayaan Banjar, peserta yang berhasil menjawab pertanyaan mendapat hadiah menarik dari panitia.

Sorak-sorai tawa dan tepuk tangan pecah di antara perahu-perahu yang masih terapung di sungai. Momen kebersamaan itu menutup rangkaian acara dengan nuansa penuh kekeluargaan dan semangat menjaga warisan leluhur.
“Semoga tahun depan festival ini bisa lebih besar lagi dan melibatkan lebih banyak pedagang dari desa sekitar. Ini bukan hanya tentang jual beli, tapi tentang menjaga jati diri kita sebagai masyarakat sungai,” pungkas salah satu pedagang senior, Hj. Aminah, yang telah berdagang di Lok Baintan selama lebih dari 20 tahun.
Festival Pasar Terapung Lok Baintan 2025 pun berakhir dengan kesan mendalam, meninggalkan pesan bahwa modernisasi tidak harus menghapus tradisi. Selama masih ada semangat untuk melestarikan budaya, kehidupan di atas sungai Martapura akan terus berdenyut, mengalir bersama arus sejarah masyarakat Banjar.



