REDAKSI8.COM, BANJAR.- Perjuangan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar menyisakan insiden yang menjadi pengingat pentingnya keselamatan petugas di lapangan. Enam petugas mengalami sesak napas, bahkan beberapa di antaranya sempat pingsan saat berjibaku memadamkan api di Desa Bincau, Kecamatan Martapura.
Keenam petugas tersebut harus mendapatkan penanganan medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Ratu Zalecha Martapura, Jumat (16/10/2026) malam.
Mendengar kejadian tersebut, Bupati Banjar H Saidi Mansyur langsung mengunjungi para petugas untuk melihat kondisi mereka sekaligus memberikan dukungan kepada para relawan dan personel yang mengalami gangguan kesehatan saat menjalankan tugas kemanusiaan.
Dalam kunjungan itu, Saidi didampingi Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar Wasis Nugraha, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Agus Siswanto, serta Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (DKISP) Faisal.
Insiden tersebut menjadi perhatian serius karena para petugas harus berhadapan langsung dengan kobaran api dan kepulan asap yang berpotensi membahayakan kesehatan. Terlebih, lokasi kebakaran di Desa Bincau berada di sekitar permukiman warga sehingga pemadaman harus dilakukan untuk mencegah api meluas dan mengancam keselamatan masyarakat.
Di tengah upaya mengendalikan kebakaran, kondisi fisik petugas menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Paparan asap, kelelahan, serta beratnya pekerjaan pemadaman dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika petugas harus bertahan cukup lama di lokasi kebakaran.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Banjar H Saidi Mansyur menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan dan petugas yang telah berjuang memadamkan karhutla. Menurutnya, pengabdian mereka memiliki peran besar dalam melindungi masyarakat, menjaga lingkungan, serta mencegah kebakaran meluas ke kawasan permukiman.
Namun, ia mengingatkan bahwa semangat membantu masyarakat harus tetap diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga keselamatan diri.
“Semangat dan kepedulian para relawan patut kita apresiasi. Namun, keselamatan diri juga harus menjadi perhatian utama. Jangan memaksakan diri apabila kondisi fisik sudah tidak memungkinkan,” pesannya.
Saidi menegaskan, keberanian dan kepedulian para petugas di lapangan merupakan hal yang patut dihargai. Meski demikian, mereka tetap harus memahami batas kemampuan fisik masing-masing, terlebih ketika menghadapi situasi darurat yang penuh risiko.
Menurutnya, penanganan karhutla bukan hanya soal seberapa cepat api dapat dipadamkan, tetapi juga bagaimana seluruh proses berjalan dengan aman bagi petugas, relawan, dan masyarakat di sekitar lokasi.
Karena itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) yang sesuai, pemantauan kondisi kesehatan, serta kesiapan untuk menghentikan pekerjaan ketika mengalami gangguan fisik harus menjadi perhatian bersama.
Paparan asap kebakaran dapat mengganggu sistem pernapasan. Dalam kondisi tertentu, asap dan partikel hasil pembakaran dapat menyebabkan iritasi, batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi kesehatan seseorang.
Risiko tersebut perlu diantisipasi oleh setiap petugas yang terlibat dalam pemadaman, terutama saat bekerja di lokasi dengan asap pekat atau sirkulasi udara yang terbatas.
Saidi mengingatkan agar petugas tidak mengabaikan tanda-tanda kelelahan maupun gangguan pernapasan. Jika kondisi tubuh mulai menurun, mereka diharapkan segera menghentikan aktivitas, menjauh dari paparan asap, dan mendapatkan pertolongan medis apabila diperlukan.
Penggunaan APD yang tepat juga menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko selama proses pemadaman. Selain perlengkapan pelindung, pengaturan waktu kerja, istirahat yang cukup, ketersediaan air minum, serta pemantauan kondisi petugas perlu diperhatikan agar penanganan karhutla tidak menimbulkan korban tambahan.
Bagi para relawan yang berada di garis depan, keselamatan bukan berarti mengurangi semangat pengabdian. Sebaliknya, menjaga kondisi tubuh merupakan langkah penting agar mereka dapat terus menjalankan tugas secara optimal tanpa membahayakan diri sendiri.
Bupati Banjar juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memberikan perhatian terhadap kesehatan para petugas dan relawan yang mengalami gangguan kesehatan saat menjalankan tugas penanganan karhutla.
Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Namun, apabila insiden yang sama terjadi, pemerintah daerah berkomitmen memberikan dukungan, khususnya dalam penanganan kesehatan para petugas yang terdampak.
“Kita berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi. Namun, komitmen pemerintah daerah ketika terjadi hal seperti ini, khususnya dalam penanganan kesehatan, tentu akan digratiskan, karena kesehatan juga merupakan hal yang penting bagi mereka,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap para petugas yang mempertaruhkan tenaga dan keselamatan demi melindungi masyarakat dari ancaman kebakaran.
Penanganan karhutla memang membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari BPBD, petugas pemadam kebakaran, relawan, hingga masyarakat. Akan tetapi, upaya tersebut juga harus disertai perlindungan yang memadai bagi setiap personel yang terlibat.
Kejadian di Desa Bincau menjadi pengingat bahwa keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya diukur dari padamnya api, tetapi juga dari kemampuan seluruh pihak menjaga keselamatan manusia selama proses berlangsung.
Adapun enam petugas yang mengalami gangguan pernapasan terdiri atas lima relawan Bumi Selamat Rescue (BUSER 690), yakni Hasanudin, M Hasan, M Rizky, Aditya, dan Yosi Rahman, serta Aulia Rizky dari BPBD Kabupaten Banjar.
Dukungan dan perhatian terhadap mereka diharapkan dapat membantu proses pemulihan sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat prosedur keselamatan bagi seluruh petugas dan relawan yang bertugas di lokasi karhutla.
Di tengah ancaman kebakaran yang dapat terjadi sewaktu-waktu, para petugas tetap menjadi garda terdepan dalam melindungi masyarakat. Karena itu, keselamatan mereka harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap upaya penanggulangan bencana.
Enam Petugas Karhutla Sesak Napas hingga Pingsan, Bupati Banjar Jenguk Korban di RSUD Ratu Zalecha








