REDAKSI8.COM, BANJAR – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Tani Merdeka Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung program sosial pemerintah. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui sinergi dengan para petani tambak ikan air tawar di Desa Sungai Arfat, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.
Program ini difokuskan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi prioritas nasional dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Kalimantan Selatan, Alin Wijaya, turun langsung ke lapangan bersama Bidang Hubungan Antar Lembaga Nezekiel Hutapea serta Bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK) Ana Setiani, Sabtu (28/3/2026).
Kehadiran rombongan disambut hangat oleh para petani tambak yang tergabung dalam kelompok tani Sulasih, yang selama ini aktif mengembangkan budidaya ikan air tawar di wilayah tersebut .
Dalam kunjungan tersebut, rombongan melakukan dialog interaktif guna menyerap aspirasi petani sekaligus meninjau langsung kondisi tambak, sistem budidaya, hingga potensi produksi yang dapat dikembangkan ke depan.
Sektor perikanan air tawar dinilai memiliki peran strategis sebagai penyedia sumber protein hewani yang terjangkau, segar, dan mudah diakses, seperti ikan lele, nila, dan patin.
Alin Wijaya menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah nyata dalam menghubungkan sektor produksi pangan dengan kebutuhan konsumsi masyarakat secara langsung.
“Petani tambak memiliki peran penting dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis. Karena itu, kami hadir untuk memastikan produksi mereka bisa terus meningkat dan terserap pasar secara berkelanjutan,” ujarnya.

DPW Tani Merdeka Indonesia, lanjutnya, akan mendorong penguatan kapasitas petani melalui pendampingan, peningkatan akses terhadap pakan dan bibit unggul, serta membuka peluang kemitraan strategis. Dengan demikian, petani tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperoleh kepastian pasar yang lebih stabil.
Tidak hanya sektor perikanan, dalam rangkaian kegiatan yang sama, DPW Tani Merdeka Indonesia Kalsel juga melakukan kunjungan ke petani hidroponik sebagai bagian dari upaya mendorong pertanian modern dan berkelanjutan di Karang Anyar Kota Banjarbaru.
Kunjungan ini bertujuan untuk melihat secara langsung praktik budidaya sayuran dengan sistem hidroponik yang kini semakin berkembang, khususnya di tengah keterbatasan lahan. Rombongan mendapatkan penjelasan lengkap mulai dari proses penyemaian bibit, penggunaan media tanam non-tanah, pengaturan nutrisi, hingga sistem irigasi yang digunakan.
Menurut Alin Wijaya, sistem hidroponik memiliki prospek besar untuk dikembangkan, terutama di wilayah perkotaan. Selain efisien dalam penggunaan air, metode ini juga mampu menghasilkan produk sayuran yang lebih higienis dan berkualitas karena minim penggunaan pestisida.
“Kami ingin mendorong agar pertanian hidroponik ini bisa lebih luas diterapkan sebagai solusi pertanian masa depan,” tambahnya.
Dalam dialog bersama petani hidroponik, terungkap sejumlah tantangan yang masih dihadapi, seperti tingginya biaya instalasi awal, kebutuhan kontrol nutrisi yang ketat, hingga aspek pemasaran hasil panen. Meski demikian, para petani mengakui bahwa sistem ini tetap menjanjikan jika dikelola dengan baik.
Nezekiel Hutapea menyampaikan bahwa pihaknya akan berperan aktif menjembatani komunikasi antara petani dengan pemerintah maupun sektor swasta guna membuka akses dukungan dan pasar.
Sementara itu, Ana Setiani menekankan pentingnya penguatan kelembagaan petani agar mampu berkembang secara kolektif dan berkelanjutan.
Melalui sinergi antara sektor perikanan dan pertanian modern ini, DPW Tani Merdeka Indonesia Kalimantan Selatan optimistis dapat mendorong terciptanya ekosistem pangan lokal yang kuat. Produksi dari petani diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan daerah, tetapi juga berkontribusi langsung dalam menyukseskan program Makan Bergizi Gratis.
Langkah ini sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor, mulai dari petani hingga organisasi, memiliki peran penting dalam mewujudkan kemandirian pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.



