REDAKSI8.COM, BANJAR – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadhan di Kabupaten Banjar dilakukan dengan skema khusus. Penyesuaian dilakukan baik dari sisi menu maupun sistem distribusi, menyesuaikan kondisi sekolah yang sebagian masih menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Perbedaan paling mencolok terlihat pada pembagian menu basah dan menu kering, serta pola distribusi harian dan per tiga hari. Sejumlah sekolah menerima pengantaran setiap hari, sementara lainnya menerima paket makanan dua kali dalam sepekan dengan sistem rapelan maksimal tiga hari.
Seperti yang dijelaskan oleh Korwil SPPI Kabupaten Banjar Shinta Aulia menjelaskan bahwa sekolah yang hadir setiap hari ke sekolah maka akan didistribusikan MBG setiap hari juga. Namun sebagian sekolah dengan kondisi PJJ membuat siswa tidak hadir langsung ke sekolah. Karena itu, berdasarkan kesepakatan dengan pihak sekolah penerima manfaat, distribusi dilakukan setiap hari Senin dan Kamis. Pengiriman pada hari tersebut mencakup kebutuhan hingga tiga hari kedepan.
“Selama Ramadan, siswa sekolah menerima menu kering yang praktis dan tahan simpan. Paket MBG diantaranya berisi ayam ungkep yang telah diproses dan dikemas menggunakan plastik vakum (press) agar lebih awet dan aman dibawa pulang. Selain itu, paket juga dilengkapi susu, roti, buah, telur, hingga puding sebagai pelengkap asupan gizi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa berbagai macam variasi menu sesuai kreasi SPPG masing-masing, misalnya karbo untuk menu kering bisa berupa roti, jagung, ubi, kentang. protein hewani bisa berupa abon, telur, ayam, susu. protein nabati bisa berupa tempe, kacang, tahu. serat dan vitamin bisa dari berbagai macam buah-buahan.
Berbeda dengan siswa, kelompok 3B yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tetap menerima layanan normal dua kali seminggu. Pada hari Senin, mereka memperoleh satu menu basah untuk hari itu serta dua menu kering untuk Selasa dan Rabu. Kemudian pada Kamis, kembali disalurkan satu menu basah untuk hari tersebut serta dua menu kering untuk Jumat dan Sabtu. Skema ini tetap disesuaikan dengan kesepakatan bersama penerima manfaat.
Penyaluran MBG dilakukan melalui penanggung jawab atau PIC (Person in Charge) di masing-masing sekolah. Siswa dapat mengambil langsung paket makanan sesuai waktu yang disepakati. Namun, penerimaan paket tetap bergantung pada kehadiran dan kesediaan siswa. Jika tidak diambil, maka paket yang sudah dikirim menjadi tanggung jawab pihak sekolah.
Untuk jenjang SD, distribusi umumnya difokuskan pada kelas tertentu, meski ada pula sekolah yang menyalurkan kepada seluruh tingkatan. Sementara di jenjang TK, tidak terdapat perbedaan jenis menu, hanya penyesuaian pada ukuran porsi yang lebih kecil dibanding siswa kelas atas.
Di Kabupaten Banjar, sebagian sekolah masih menerapkan distribusi per tiga hari. Namun berdasarkan arahan Ketua Regional, skema ideal adalah distribusi harian agar kebutuhan gizi anak terpenuhi secara optimal. Skema harian dinilai lebih tepat sasaran karena nilai gizi yang dirancang telah dihitung berdasarkan kebutuhan asupan per hari.
Kekhawatiran muncul apabila makanan dibagikan sekaligus untuk beberapa hari, karena berpotensi dikonsumsi dalam satu waktu sehingga tidak sesuai dengan perhitungan kebutuhan gizi yang telah ditetapkan.
Penentuan menu sendiri dilakukan oleh pengawas gizi bersama tim KSPPG (Kelompok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). Mereka memastikan komposisi makanan memenuhi standar kebutuhan protein, karbohidrat, serta vitamin bagi anak sekolah.
Perbedaan pola distribusi di tiap wilayah menunjukkan adanya fleksibilitas dalam pelaksanaan program MBG, menyesuaikan kondisi daerah dan kesiapan logistik. Meski demikian, evaluasi berkelanjutan tetap diperlukan agar standar pemenuhan gizi harian siswa dapat tercapai secara merata.
Pemerintah daerah bersama pihak sekolah diharapkan terus memperkuat koordinasi agar penyaluran MBG selama Ramadan berjalan tertib, tepat sasaran, serta tetap menjaga kualitas dan kecukupan gizi bagi seluruh penerima manfaat.



