REDAKSI8.COM, BANJAR, Depth News – Upaya memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Banjar terus digenjot secara sistematis dan terarah. Salah satu langkah konkret dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Banjar yang kini memfokuskan perhatian pada optimalisasi lahan pertanian baru pasca program cetak sawah.
Melalui Bidang Prasarana Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), Perkebunan, dan Peternakan, Distan menggelar sosialisasi intensif terkait tata kelola olah lahan di Aula Distan, Senin (4/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memastikan lahan yang telah dibuka tidak hanya siap tanam, tetapi juga mampu berproduksi secara optimal dan berkelanjutan.
Sosialisasi tersebut dipimpin langsung oleh Plt Kepala Bidang Prasarana TPH, Perkebunan, dan Peternakan, Gusti Rahmatullah. Ia didampingi jajaran pejabat eselon, perwakilan Balai Riset dan Modernisasi Pertanian (BRMP), serta penyuluh dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh unsur birokrasi, tetapi juga melibatkan perwakilan Brigade Pangan dari seluruh wilayah Kabupaten Banjar. Mereka merupakan garda terdepan dalam pelaksanaan program pertanian di lapangan, sehingga kehadiran mereka dinilai sangat krusial untuk memastikan implementasi kebijakan berjalan efektif.
Gusti Rahmatullah menegaskan bahwa sosialisasi ini bukan sekadar forum penyampaian materi, melainkan upaya menyamakan persepsi dan memperkuat koordinasi antara pemerintah dan pelaku pertanian di lapangan.
“Lahan yang sudah dicetak harus segera kita dorong menjadi lahan produktif. Jangan sampai terbengkalai. Karena itu, kita perlu memastikan semua pihak memahami standar pengelolaan yang benar,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Gusti mengulas secara rinci berbagai standar teknis yang menjadi acuan dalam pengelolaan lahan baru. Mulai dari kriteria lokasi yang layak untuk digarap, kondisi tanah yang sesuai untuk tanaman pangan, hingga kesiapan infrastruktur pendukung seperti irigasi dan akses jalan usaha tani.
Ia juga menjelaskan klasifikasi kelompok tani yang tergabung dalam Brigade Pangan, termasuk peran dan tanggung jawab masing-masing dalam mendukung percepatan produksi. Menurutnya, penguatan kelembagaan petani menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan program.
Yidak hanya aspek teknis, Gusti juga menekankan pentingnya tata kelola yang transparan dan akuntabel. Dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari pembukaan lahan hingga proses tanam, seluruh pihak diwajibkan melakukan pencatatan dan pelaporan yang jelas.
“Setiap aktivitas di lapangan harus dilengkapi dokumentasi visual berupa foto. Ini penting sebagai bukti kerja sekaligus bahan evaluasi. Kita ingin semua berjalan transparan dan bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Untuk meningkatkan akurasi data, Distan juga menerapkan sistem pengukuran berbasis poligon dalam menentukan luas lahan. Metode ini dinilai lebih presisi dibandingkan cara konvensional, sehingga dapat meminimalisir perbedaan data yang kerap menjadi kendala dalam perencanaan dan pelaporan.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari transformasi menuju pertanian modern yang berbasis data. Dengan data yang akurat, pemerintah daerah dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran, termasuk dalam hal distribusi bantuan, perencanaan musim tanam, hingga pengendalian produksi.
Para peserta sosialisasi menyambut positif kegiatan ini. Perwakilan Brigade Pangan menilai, materi yang disampaikan memberikan pemahaman yang lebih jelas terkait pengelolaan lahan baru, sekaligus menjawab berbagai kendala yang selama ini dihadapi di lapangan.
Selain itu, forum ini juga menjadi ruang diskusi terbuka antara petani, penyuluh, dan pemerintah daerah. Berbagai masukan dan pengalaman langsung dari lapangan turut memperkaya pembahasan, sehingga solusi yang dihasilkan lebih kontekstual dan aplikatif.
Distan Banjar menargetkan, lahan-lahan baru yang telah dibuka dapat segera masuk masa tanam dalam waktu dekat. Dengan pengelolaan yang tepat, lahan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan, khususnya komoditas padi, yang menjadi andalan daerah.
Upaya ini juga sejalan dengan program nasional dalam memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan global, seperti perubahan iklim dan fluktuasi pasokan pangan dunia. Kabupaten Banjar, sebagai salah satu daerah penyangga pangan di Kalimantan Selatan, diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam menjaga stabilitas ketersediaan pangan.
Ke depan, Distan Banjar berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan secara berkelanjutan kepada para petani dan Brigade Pangan. Tidak hanya melalui sosialisasi, tetapi juga dengan penguatan kapasitas, pemanfaatan teknologi pertanian, serta peningkatan akses terhadap sarana dan prasarana produksi.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan, optimalisasi lahan pertanian baru diyakini dapat menjadi motor penggerak peningkatan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan.



