REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Selatan (Kalsel) terus mengalami kenaikan tiap minggunya.
Berdasarkan dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalsel dalam minggu terakhir sudah ada 5800 kasus ISPA.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalsel, Dr. Diauddin mengatakan, dari bulan Agustus ke September, setiap minggu dan setiap bulan ada peningkatan kasus ISPA di Kalsel.
“Kalau minggu terakhir catatan kita ada sekitar 5800 kasus ISPA, ada peningkatan dari minggu kemarin sekitar 100, tapi kalau dari bulanan bisa sampai ribuan peningkatan nya,” ujar Dr. Diauddin, Rabu (4/10/23).
Terjadinya kemarau yang cukup panjang, ditambah bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) ini menyebabkan udara menjadi kurang sehat.
Namun, tidak hanya karena asap Karhutla, kasus ISPA bisa disebabkan oleh debu yang terkandung tinggi di udara akibat dari tanah kering.
Alhasil, laporan penyakit ISPA di sejumlah Kabupaten/Kota Provinsi Kalsel ini terus naik, sehingga harus diwaspadai.
“Memang jumlah ISPA di Kalimantan Selatan dari bulan lalu itu meningkat, perminggu pun ada peningkatan,” katanya.
Oleh karena itu, kondisi udara di Kalsel kapasitasnya dianggap tidak sehat, khususnya di Kota Banjarmasin dan Banjarbaru.
Dengan begitu, Ia mengimbau masyarakat saat bepergian keluar rumah untuk memakai masker sebagai langkah antisipasi dan waspada terhadap penyakit ISPA.
“Dua Kota ini yang saya harapkan masyarakat harus lebih waspada, terutama tidak melakukan aktivitas diluar ruangan, sebab wilayah yang paling terdampak Banjarmasin,” imbaunya.
“Meski tidak ada titik Karhutla di Banjarmasin tapi menjadi penerima dampak dari Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan Barito Kuala,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes, Kota Banjarbaru, Dr. Juhai Triyanti Agustina mengatakan, tercatat total kasus ISPA di minggu ke-38 sebanyak 846 orang.
Ddi minggu berikutnya total pasien ISPA turun menjadi 834 orang.
Total keseluruhan kasus ISPA di Kota Banjarbaru pada bulan September mencapai 3530 orang.
Meski demikian, dari jumlah tersebut tidak menggambarkan kondisi kasus ISPA yang sebenarnya di Kota Banjarbaru.
“Ini yang tercatat karena mereka berobatnya di Puskesmas, namun diluar sana kemungkinan besar bisa lebih banyak dari jumlah tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, tidak semua pengidap ISPA di Banjarbaru berobat ke Puskesmas. Sebab di Banjarbaru ada banyak klinik, praktik dokter mandiri, bahkan ada yang berobat sendiri menggunakan obat yang dibeli di warung.
Tingginya kasus ISPA ini memang disebabkan oleh pekatnya kabut asap dampak dari Karhutla yang semakin marak.
Dengan itu, Ia pun mengimbau, kepada masyarakat disiplin menjaga kesehatan selama musim kemarau panjang yang tengah berlangsung.
Diantaranya kurangi kegiatan dan selalu menggunakan masker ketika beraktivitas diluar rumah. Jangan lupa secara rutin minum air putih serta makan makanan yang bergizi.
“Kalau bisa juga pakai kacamata, karena kabut asap tidak hanya mengganggu jaringan pernapasan saja, tapi juga bisa membuat iritasi pada mata,” pungkasnya.



