REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit campak di wilayah Banjarbaru khususnya.
Dengan memperkuat edukasi kepada masyarakat serta mengingatkan pentingnya langkah pencegahan agar penularan tidak meluas, terutama pada anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan.

Kepala Dinkes Banjarbaru, dr. Juhai Triyanti Agustina mengatakan, hingga saat ini belum terdapat laporan kasus campak di Kota Banjarbaru.
Meski demikian, pihaknya tetap memantau situasi dan mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus melalui promosi kesehatan serta edukasi kepada masyarakat.
“Sejauh ini belum ada kasus yang meningkat di Banjarbaru, kalau kasus pastinya ada aja, tapi yang booming nggak ada sih dilaporkan,” ucapnya, Kamis (5/3/26).
Menurutnya, langkah antisipasi tetap dilakukan secara berkelanjutan, termasuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya isolasi bagi penderita campak agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
“Tidak, belum ada sih laporan ekstrem, tapi tetap saja kita selalu antisipasi promosi edukasinya terus kita galakkan supaya menekan kasus campak,” ujarnya.
Ia menegaskan, apabila terdapat anak yang terinfeksi campak, maka perlu dilakukan isolasi sementara, khususnya bagi yang masih bersekolah, guna memutus rantai penularan di lingkungan sekitar.
“Kalau kena campak harus diisolasi, misalnya masih sekolah jangan masuk minimal dua minggu,” katanya.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan melalui pengambilan sampel darah untuk memastikan diagnosis campak pada pasien yang memiliki gejala.
“Untuk pemeriksaan darah, pastinya akan kita ambil sampelnya untuk memastikan,” imbuhnya.
Secara umum, dr Juhai menjelaskan, gejala campak ditandai dengan demam tinggi yang diikuti munculnya ruam pada kulit.
Oleh sebab itu, anak-anak dinilai menjadi kelompok yang paling rentan tertular karena aktivitas sosial yang tinggi dan interaksi yang intens dengan teman sebaya.
“Gejalanya ada panas dan ruam yang muncul, batuk filek, mata merah dan lemas,” sebutnya.
Namun, ia kembali mengingatkan, bahwa penyakit campak sebenarnya dapat menyerang semua kelompok usia sehingga masyarakat perlu tetap waspada agar tidak terjadi komplikasi yang berbahaya bagi kesehatan.
“Semua usia bisa tertular, dan jangan sampai terjadi komplikasi. Itu yang bahaya,” tuturnya.
Sedangkan capaian imunisasi di Kota Banjarbaru sejauh ini cukup baik dan bahkan menjadi salah satu yang terbaik di Kalimantan Selatan.
Demikian diharapkan mampu menekan risiko penyebaran campak.
“Alhamdulillah untuk Banjarbaru cakupan imunisasi dasar lengkapnya bagus, terbaik se-Kalsel,” bebernya.
Sementara itu, Direktur RSD Idaman Banjarbaru, Denny Indrawardhana menyampaikan, hingga kini pihak rumah sakit belum menerima pasien dengan dugaan campak yang memerlukan perawatan.
“Untuk pasien campak sampai sejauh ini laporan dari teman-teman belum ada yang kasus mengarah ke sana,” katanya.
Ia menjelaskan, sebagian besar kasus campak umumnya cukup ditangani dengan isolasi mandiri di rumah sehingga tidak selalu membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Meski begitu, rumah sakit tetap menyiapkan prosedur penanganan apabila terdapat pasien dengan dugaan penyakit infeksi menular, termasuk campak.
“Karena kebanyakan kasus campak diisolasinya di rumah. Kalaupun ada pasien datang ke IGD nanti akan dilakukan penapisan infeksius, kemudian masuk ke ruang infeksi,” tandasnya.



