REDAKSI8.COM – Untuk mengisi kegiatan akhir tahun 2019, Gerakan Santri Nusantara (GSN) Kabupaten Banjar Gelar Dialog Refleksi Akhir Tahun Di Puncak Kiram dengan pembicara Abu Zein Fardany.
Pilihan ini karena Abu Zein Fardany yang bernama asli Khairullah Zain dikenal sebagai da’i muda yang memahami tantangan revolusi industri 4.0 dan mampu memberi pencerahan kepada generasi milenial.
“Selain sebagai alumnus lembaga pengkaderan ahli fiqh Ma’had ‘Aly Darussalam dan lama ikut hadir di majlis ta’lim Abah Guru Sekumpul, beliau juga berwawasan luas, mengerti tantangan revolusi industri 4.0 dan yang pasti cinta NKRI”, aku Sahlani, ketua GSN Kabupaten Banjar.
Rencananya Refleksi Akhir Tahun ini akan digelar pada Sabtu Malam, 28 Desember 2019 dan terbuka untuk umum dengan mengangkat tema “Revolusi Mental Untuk Mewujudkan Generasi Muda Yang Berakhlakul Karimah Dan Cinta NKRI”,
Sahlani mengatakan, bahwa kegiatan ini sebagai wujud kepedulian para santri terhadap generasi milenial dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 bila tidak dihadapi dengan cerdas dan berkesadaran, akan menjadi bumerang untuk generasi milenial.
Generasi milenial dalam menghadapi derasnya arus informasi harus menyiapkan mental yang berkesadaran dan berakhlakul karimah.
“Setiap hari kita diserbu aneka informasi dan konten yang menggiring untuk saling membenci dan disintegrasi bangsa”, jelasnya.
Karenanya, ungkap pria yang juga Sekjen IPNU Kalsel ini, kita mesti menyiapkan filter untuk generasi milenial agar tidak terjebak dalam jerat efek negatif 4.0.
“Kaum milenial tidak boleh terlena dengan kenyamanan hidup seperti saat ini. Kualitas moral dan akhlak serta pengetahuan agama perlu ditingkatkan jauh lebih baik dari kualitas para orangtuanya dan kakek-neneknya jaman dahulu dalam menghadapi kerumitan dan beratnya tantangan masyakarat dunia ke depan”, jelasnya
Sahlani juga mengajak generasi milenial yang ingin bergabung dan mendapat pencerahan agar berhadir pada acara Refleksi Akhir Tahun di Puncak Kiram.
“Acara terbuka untuk umum, tidak terbatas pada anggota Gerakan Santri Nusantara saja. Mari kita berdiskusi dan berdialog menghadapi problematika 4.0 ini”, ajaknya.



