REDAKSI8.COM, BANJAR – “Datang Barasih, Bulik Barasih.” Slogan sederhana namun sarat makna ini terus digaungkan para relawan kebersihan di tengah lautan jamaah yang memadati kawasan Sekumpul pada momen haul 5 Rajab. Di balik khidmatnya zikir dan doa, ada perjuangan senyap yang tak kalah berat, menjaga Martapura tetap bersih dari tumpukan sampah.
Kehadiran jutaan jamaah dari berbagai daerah tak terelakkan membawa konsekuensi lingkungan. Sisa makanan, botol plastik, kantong sekali pakai hingga kemasan minuman menumpuk di sejumlah titik. Jika tak segera ditangani, sampah bukan hanya mengotori wajah kota, tetapi juga menimbulkan bau tidak sedap yang mengganggu kenyamanan jamaah.
Sejak pagi hingga larut malam, relawan dari Tim Kebersihan Sekumpul bersama relawan posko lainnya berjibaku menyusuri ruas jalan, gang, dan area pengajian. Dengan peralatan seadanya, mereka bekerja tanpa kenal lelah, mengumpulkan sampah demi sampah yang tercecer di tengah arus jamaah yang terus berdatangan.

Namun, jumlah relawan kebersihan masih jauh dari ideal bila dibandingkan dengan membludaknya jamaah. Kondisi ini membuat tugas mereka terasa berlipat ganda. Meski demikian, semangat gotong royong dan keikhlasan menjadi bahan bakar utama para relawan untuk tetap bertahan.
Dewi Hildayati, salah satu relawan Tim Kebersihan Sekumpul, mengungkapkan rasa syukurnya atas meningkatnya kesadaran jamaah terhadap kebersihan.
“Alhamdulillah, sebagian besar jamaah sudah ikut menjaga kebersihan. Banyak yang membuang sampah pada tempatnya dan saling mengingatkan,” ujarnya.
Menurut Dewi, kesadaran ini menjadi harapan besar agar pelaksanaan 5 Rajab ke depan semakin ramah lingkungan. Ia berharap kepedulian jamaah terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah relawan kebersihan.

“Kita sama-sama mencari keberkahan. Semoga tahun depan relawan kebersihan lebih banyak lagi, dan jamaah semakin sadar bahwa menjaga kebersihan juga bagian dari ibadah,” tambahnya.
Momentum 5 Rajab bukan hanya menjadi ajang spiritual, tetapi juga cermin kepedulian bersama terhadap lingkungan. Slogan “Datang Barasih, Bulik Barasih” diharapkan tak sekadar menjadi seruan, melainkan budaya kolektif yang terus hidup, sehingga keberkahan yang dicari benar-benar dirasakan oleh semua, baik manusia maupun alam di sekitarnya.



