REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Meski kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Banjarbaru, dampak dari Kebakaran Hutan dan lahan (Karhutla), kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) justru mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Berdasarkan data Rumah Sakit Daerah Idaman (RSDI) Kota Banjarbaru, kasus ISPA di bulan Agustus telah mencapai 166 kasus. Tapi di bulan September, turun menjadi 77 kasus.
“Alhamdulillah per September ini kita mengalami penurunan kasus, dari sebelumnya Agustus 166 kasus, September turun jadi 77 kasus, karena kondisi asap juga sudah mulai menurun,” terang Direktur RSDI Kota Banjarbaru, Dr. Danny Indrawardhana, Kamis (12/10/23).
Dr. Danny mengungkapkan, diagnosa ISPA di rumah sakit tentunya sudah ISPA advance, sehingga pihaknya selalu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru terkait datanya.
Secara prinsip penanganan ISPA di rumah sakit sudah sesuai prosedur dengan memeriksa ainesis, fisik dan pemeriksaan penunjang, bahkan saturasi oksigen.
“Kita lakukan penanganan sesuai dengan kondisi pasien, baik itu oksigenasi sampai pemberian obat lewat infus,” ujarnya.
Tidak hanya itu, dukungan oksigen maintenance dan waktunya sangat diperhatikan oleh pihak RSDI.
Lalu untuk persediaan oksigen dan stok obat-obatan sendiri Ia menjamin aman sampai dua tiga Minggu kedepan.
“InsyaAllah untuk support oksigen sejauh ini di rumah sakit idaman mencukupi,” bebernya.
“Untuk obat-obatan pun, baik yang sifatnya oral maupun obat yang sebagian disuntikan itu akan selalu kita siapkan,” sambungnya.
Walaupun kasus ISPA mengalami penurunan, Dr. Danny tetap mengimbau masyarakat Banjarbaru tidak lengah.
Masyarakat mesti melaksanakan upaya-upaya preventif, seperti menjaga imunitas tubuh, istirahat yang cukup, dan makan makanan yang bergizi.
“Tetap jangan lengah, saya sangat menganjurkan jika tidak ada keperluan yang mendesak di luar sebaiknya di rumah saja, dengan harapan tidak terlalu terpapar, terutama kasusnya untuk anak-anak dan lansia,” tutupnya.
Sebelumnya, Kepala Dinkes, Kota Banjarbaru, Dr. Juhai Triyanti Agustina mengatakan, tercatat total kasus ISPA di minggu ke-38 sebanyak 846 orang.
Di minggu berikutnya total pasien ISPA turun menjadi 834 orang.
Total keseluruhan kasus ISPA di Kota Banjarbaru pada bulan September mencapai 3530 orang.
Walaupun demikian, jumlah tersebut tidak menggambarkan kondisi kasus ISPA yang sebenarnya di Kota Banjarbaru.
“Ini yang tercatat karena mereka berobatnya di Puskesmas, namun diluar sana kemungkinan besar bisa lebih banyak dari jumlah tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, tidak semua pengidap ISPA di Banjarbaru berobat ke Puskesmas. Sebab di Banjarbaru ada banyak klinik, praktik dokter mandiri, bahkan ada yang berobat sendiri menggunakan obat yang dibeli di warung.
Tingginya kasus ISPA ini memang disebabkan oleh pekatnya kabut asap dampak dari Karhutla yang semakin marak.
Dengan itu, Ia pun mengimbau, kepada masyarakat disiplin menjaga kesehatan selama musim kemarau panjang yang tengah berlangsung.
Diantaranya kurangi kegiatan dan selalu menggunakan masker ketika beraktivitas diluar rumah. Jangan lupa secara rutin minum air putih serta makan makanan yang bergizi.
“Kalau bisa juga pakai kacamata, karena kabut asap tidak hanya mengganggu jaringan pernapasan saja, tapi juga bisa membuat iritasi pada mata,” pungkasnya.



