REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Banjir yang masih merendam di sejumlah titik kawasan Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kota Banjarbaru, termasuk Komplek Terace Pelangi Jalan Tambak Buluh menyebabkan aktivitas warga terganggu, bahkan terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Berdasarkan pantauan di lapangan, banyak warga terdampak khususnya lansia dan anak-anak berada dalam kondisi yang memprihatinkan.

Seperti salah satu warga Komplek TeraTerace Pelangi, Taridah mengungkap, bahwa dirinya memilih bertahan di lokasi yang dianggap lebih aman sambil menunggu air surut.
“Ujar buhannya di Kelurahan sudah hibak lawan di kelurahan banyak balita nya, sedangkan anakku nih ada dua kada bisa guring amun abut. Jadi aku lebih baik disini lawan kan parak nih,” ucapnya, Selasa (6/01/26).
Menurutnya, banjir di kawasannya itu sudah berlangsung beberapa kali dan kembali terjadi di awal Tahun 2025 ini. Namun, banjir terparah disebut terjadi pada Tahun 2021 lalu.
“Itu pang dah. Ini titir 2 tahun ya kami ini. 2025 awal kebanjiran juga, ini pulang titir nah. Tapi yang lebih parah 2021 kemarin,” ujarnya.
Demikian, ia berharap ada solusi konkret dari Pemerintah Daerah (Pemda) untuk memotivasi banjir ini agar tidak terus berulang.
“Apakah solusinya dari Wali Kota, supaya kami ini jangan kebanjiran terus. Soalnya komplek ini dominannya lansia lawan anak-anak,” ungkapnya.
Di sisi lain, Taridah juga menyoroti kondisi jalan yang tergenang cukup dalam hingga melebihi lutut orang dewasa, sehingga membahayakan warga.
“Bila ibaratnya kebanjiran kaya ini harus berjalan. Itu ja dari warga beolah lanting supaya anak-anaknya jangan bercabur,” tuturnya.
Selain itu, muncul kekhawatiran akan keselamatan anak-anak akibat hewan liar yang masuk kerumah saat banjir melanda.
“Ular, kelabang semua itu masuk. Untungnya ular air kada mematuk, cuman kan amun anak-anak bahaya jua,” katanya.
Koondisi air banjir juga katanya diperparah karena adanya tercemar limbah pabrik tahu di sekitar kawasan yang membuat warga rentan terserang penyakit.
Sehingga banyak anak-anak mengalami batuk dan pilek, sementara orang dewasa mengalami gatal-gatal.
“Karena ada pembuangan dari pabrik tahu yang disana jadi kan banyunya lumayan kada sehat sebenarnya,” imbuhnya.
“Anak-anak pang mayoritasnya nih batuk pilek, kalau orang tuanya pasti balancat dah bapak-bapaknya pang terutama karena kan bapak-bapak pasti turun mengontrol, jadi obat harus selalu sedia,” sambungnya.
Sementara itu, warga lainnya, Samsul juga mengatakan, kondisi air di dalam rumahnya sudah mulai surut dibandingkan hari sebelumnya.
“Kalau kemarin tuh masih di dalam rumah, tapi sekarang sudah aman, air belum masuk ke rumah,” ucapnya.
Namun, ia mengakui akses jalan masih menjadi kendala utama bagi warga yang tidak mengungsi, sebab jalan yang belum dicor membuat aktivitas sehari-hari terganggu, termasuk untuk bekerja.
Bahkan jarak dari titik parkir menuju rumahnya lumayan jauh mencapai sekitar setengah kilometer.
“Motor nggak bisa masuk, kita parkir di sini selama banjirnya. Jalannya ini terlalu lama sekali dicor. Ini bisa menghambat aktivitas dan rumah saya paling belakang soalnya, jadi jauh jaraknya,” pungkasnya.



